Islam di Negeri Feodal


KITA SUDAH TAHU bahwa Islam merupakan agama tauhid. Tentunya makna tauhid bukanlah sekadar yakin dalam hati dan ikrar pada lisan, namun yang juga sangat penting adalah perilaku keseharian umat Islam harusnya mencerminkan orang yang bertauhid. Dengan demikian tauhid bukan hanya vertikal – transendental, tapi ia juga merupakan hubungan sosial kemasyarakatan.

Jika dilihat muslim di Indonesia, sangat banyak perilaku yang tidak mencerminkan seorang muslim yang bertauhid. Gerakan Islam di Indonesia contohnya, beberapa gerakan organisasi Islam terkesan lebih menonjolkan identitas organisasi daripada menonjolkan identitas Islam itu sendiri. Dimana penonjolan ini otomatis membangkitkan ashabiyah tersendiri bagi pengikut organisasi tersebut. Organisasi Islam juga cenderung berjalan sendiri-sendiri, dan banyak yang memilih memjukan organisasinya daripada ummat secara keseluruhan. Selain itu organisasi Islam terlalu larut dalam politik secara berlebihan.

Baca lebih lanjut

Memberi itu bagai Kran dan Bak


Perhatikan mana posisi yang kita lakoni sekarang ini sebagai kran atau bak? Kran fungsinya memberi (mengalirkan) air, sedangkan bak fungsinya menerima (menampung). Analogi antara kran dan bak bisa dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita lebih berfungsi sebagai pemberi atau penerima?

Kran, meskipun air tinggal setetes, tapi ia tetap berikan. Bagaimana pula dengan bak, yang senantiasa menerima. Ia mampu memberi jika air yang di dalam bak sudah melimpah yang akhirnya tumpah, itu pun seolah keadaan terpaksa lantaran tidak bisa menampung lagi. Baca lebih lanjut

Bedain Dokter dengan Guru


Dokter Guru

Pertengahan tahun lalu saat ujian akhir semester genap, matakuliah Isu Pendidikan Islam, ada soal ujian yang pertanyaannya terkait tantangan pendidikan Islam menghadapi globalisasi.

Pada soal tersebut tepatnya nomor terakhir, ditanyakan Apa beda dokter dengan guru?

Diakhir pertemuan matakuliah ini, dosen bersangkutan Dr Hamzah, sudah menjelaskan beda guru dengan dokter. Kalau dipikir segi profesi sangat jelas dimana letak perebedaannya. Anak kecil pun pasti tahu.

Mari lihat mana bedanya. Baca lebih lanjut

Saat UN (tak) Siap Terjun


Ujian Nasional (UN) layaknya ajang bergengsi bagi pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penyelenggara. Ajang tahunan ini terus jadi bahan gunjingan bagi masyarakat. Melihat carut marutnya pelaksanaan makin membuktikan bahwa UN bukanlah sistem yang baik. Karena metode yang satu ini menuai protes di mana-mana. Metode yang dianggap mengukur dan menilai standar pendidikan di Indonesia secara keseluruhan, melihat kemampuan siswa secara nasional dengan kelulusan mereka mengikuti UN yang sesaat.

Persoalan ini baru pertama kalinya sepanjang sejarah pelaksanaan yang dulunya disebut EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) sampai yang namanya UN. Panitia pelaksanaan UN yang dibawahi Kemendikbud tampak belum siap terjun.

Dari kendala teknis, pendistribusian soal yang kacau, seperti soal yang harusnya untuk Provinsi Riau malah kesasar ke Sumatera Utara. Jumlah soal yang kurang, terpaksa panitia memfotokopi agar beberapa siswa tetap ikut ujian. Pengiriman yang terlambat. Begitu jugalah dengan sebelas provinsi yang sempat ditunda pelaksanaannya, lantaran tidak siapnya pencetakan naskah soal yang ditenderkan kepada percatakan PT. Ghalia Indonesia Printing. Baca lebih lanjut

Bukan Salah Kartini


RA Kartini merupakan perempuan keturunan ningrat, ia putri Bupati Jepara, RM Sosro Ningrat juga Istri keempat Bupati Rembang, RMAA Singgih Djojo Adiningrat yang berkuasa pada zaman penjajahan Belanda. Sesuai surat keputusan Presiden Soekarno nomor 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya, 21 April untuk diperangati sebagai Hari Kartini setiap tahun. Kartini dianggap sebagai pahlawan yang mengangkat harkat martabat para perempuan di tanah air. Kartini digadang-gadangkan sebagai tokoh feminisme Indonesia, emansipasi wanita dan kesetaraan gender.

Berkat pemikiran Kartini yang ia goreskan melalui surat-surat lalu ia kirim kepada sahabat penanya di Belanda, Estella H Zeehandelaar, Abendanon, van Kol, GK Anton, dan Ovink. Surat pertamanya dikirim 25 Mei 1899 untuk Zeehandelaar dan terakhir 7 September 1904 untuk Abendanon. Estella H Zeehandelaar perempuan aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij di Belanda yang mengenalkan Kartini pada berbagai ide modren terutama mengenai perjuangan perempuan dan sosialisme. Van Kol adalah orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar perempuan Indonesia.

Surat-surat yang ditulisnya berbahasa Belanda berisi hak dan kebebasan untuk kemerdekaan kaum perempuan. Penyetaraan pendidikan, poligami, pengungkungan kaum perempuan, kritik adat Jawa melihat rumitnya tradisi penghormatan bagi kalangan ningrat Jawa, yang ia rasa merendahkan martabat manusia. Baca lebih lanjut

Agama Asli Terdiskriminasi


Dari sekitar 245 kepercayaan asli di  Indonesia,
belum satu pun diakui pemerintah sebagai agama yang sah

Berdasakan UU No 1 PNPS 1965, agama yang sah di Indonesia, Hindu, Budha, Islam, Kristen. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang punya kepercayaan lain di luar penganut agama tersebut mengeluh, paling tidak mereka dapat tindakan diskriminatif.“Agama asli Indonesia tidak diakui, tapi agama ‘Impor’ yang diakui,” kata Boru Panjaitan, Penghayat Kepercayaan Ugamo Malim (Parmalim) di Medan, 22 Oktober 2011.

Di Sumatera Utara ada kepercayaan asli Batak dari nenek moyangnya yang masih terpelihara sampai sekarang. Kepercayaan itu Ugamo Malim, dan mulai terorganisir 21 April 1921. Tuhannya Debata Mulajadi Nabolon. Nabinya Raja Mulia. Kitab suci mereka bersumber pada Patik Niugamo Malim—pokok ajaran malim—bentuknya hanya lisan, namanya Pustaha Habonoron—kata mereka aslinya ada di Belanda. Dan mereka sembahyang di Bale Pasogit atau Balai Parsantian setiap hari Sabtu. Baca lebih lanjut

Porluna Martarombo


Tarombo (silsilah keturunan) hal yang sangat penting bagi orang yang bermarga dari Angkola, Mandailing, Batak Toba atau daerah Tapanuli lainnya. Tarombo adalah garis keturunan semarga. Seseorang tau dia generasi keberapa dalam marga itu jika dia sudah tau tarombo marganya.

Mengetahui tarombo adalah hal yang sangat penting bagi para marga-wan. Sebab jika tak tau dengan tarombo jelas-jelas ia akan lilu (kesasar). Partuturan atau markahanggi (hubungan keluarga) dapat diketahui dari tarombo. Baca lebih lanjut