Kamu Belajar atau Menuntut Ilmu?


Hari ini—Jumat, 15 Februari 2013—kuliah hari pertamaku dengan Bapak DR. Hamzah, M. Ag, setelah dua tahun lalu tak masuk kuliah. Semester ini semester sepuluh bagiku. Mata kuliahnya Isu-isu Pendidikan Islam, dua tahun lalu nama mata kuliah ini, Kapita Selekta Pendidikan. Saya sempat masuk dengan dosen yang berbeda, sebab tak masuk empat kali pertemuan, saya diusir dari ruangan kelas, dengan berat hati dan ringan langkah, saya keluar sambil menyalam dan cium tangan sang dosen.

Kembali lagi ke topik, kuliah hari ini. Bahasan pemakalah tentang isu globalisasi dan problematikanya dengan dunia pendidikan Islam. Diskusi tak menarik bagiku. Pemakalah tak memahami dan tak menguasai bahasan makalahnya. Selesai sesi presentasi makalah dan beberapa pertanyaan dijawab dengan begitu singkat sama pemakalah.

DR. Hamzah pun suruh pemakalah kembali duduk ke barisan mahasiswa. Meskipun mereka menawarkan pada audiens untuk bantu jawab pertanyaan yang dilontarkan pada mereka. “Udah tu, udah capek kalian,” seru DR. Hamzah. Pemakalah pun menutup sesinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Memulai dan Kenapa Menulis?



2009 lalu ada lomba nulis puisi di kampus, acara ini ditaja UKMI Al-Kahfi Universitas Islam Riau. Tema lomba tentang ibu. Aku bukanlah penyuka sastra, atau lebih asyiknya aku bukanlah pujangga yang mampu merangkai kata. Aku hanyalah manusia biasa, sudah hidup 20 tahun belum mampu menuliskan kata jadi kalimat, kalimat jadi bait atau kalimat jadi paragraf.

Aku ikuti lomba itu, kutulis puisi—tanpa ide. Sebenarnya ada yang harus kuungkapkan untuk ibuku, tapi aku tak pandai sangatlah menyuguhkan metafora dan diksi yang aduhai pada juri atau orang yang akan membaca.

Kucari buku bahasa Indonesia SD, SMP juga SMA yang ada puisi tentang ibu. Aku salin semuanya, seingatku ada lima puisi yang kusalin. Dari puisi itu kuambil kata-kata bagus, dari lima puisi, kurangkai kata demi kata, sampai lima bait. Pengumuman, aku tak menang lomba. Kupikir, aku harus belajar bikin puisi. Tapi pada siapa?

Saat itu aku sudah gabung di Pers Mahasiswa AKLaMASI Universitas Islam Riau, menulis beragam berita. Siang itu aku keluar dari sekretariat—sering kami bilang Kantor Berita AKLaMASI. Di dinding AKLaMASI orang sering tempel pamphlet atau pengumuman apapun, mulai dari iklan, lowongan kerja, info pertunjukan, lomba model, kegiatan, info barang kehilangan juga info kos-an, pokonya banyak, sampai-sampai dinding itu berjejer bekas isolasi atau lem.

Aku lihat ada info recruitmen anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Pekanbaru. Aku komitmen ikut, karena mau belajar nulis puisi.

Minggu itu, aku ikut daftar meski sudah deadline, hari itu sekaligus dengan test, ada test tertulis juga lisan (interview). Yang ikut ada tiga puluh lebih. Dari kampus UIR hanya empat orang—aku bersama Muhammad Asqalani eNeSTe, Puput Jumantirawan dan Ismahera Omar—Sedih melihatnya, meski ketua FLP cabang Pekanbaru saat itu Masih Mahasiswa Fakultas Hukum UIR. Kami ditanyai tentang wawasan kepenulisan, agama, tentu khusunya satra dan artikel juga tokoh-tokoh yang bergelut dalam tulis menulis.

Seminggu kemudian pengumuman lulus seleksi keanggotaan magang. Aku lulus. Yang lulus harus pilih fiksi atau non fiksi. Aku pilih fiksi, karena aku sudah aktif di Pers Mahasiswa AKLaMASI, kupikir tak perlu lagi aku ambil non fiksi, biar aku bisa belajar nulis puisi, karena aku ingin sekali bisa nulis puisi.

Setiap minggu ada pelatihan kepenulisan khusus anggota magang. Karena peserta dibagi dua, waktu pelatihan pun dibagi dua. yang fiksi minggu pertama dan ketiga, non fiksi kedua dan keempat. Pematerinya pun orang-orang yang sering tulisannya terbit di media nasional dan lokal, ada juga yang sudah nulis buku juga novel.

Mereka mengispirasiku untuk nulis. Motivasi mereka luar biasa. Selesai materi biasanya langsung peraktek, dan dievaluasi hasil tulisannya. Pelatihan yang bagus menurutku. Karena mampu mencetak dan menghasilkan penulis-penulis bagus nasional bahkan Internasional.

Mulai itu aku menulis, karena memang tekad ingin nulis puisi, maka, seolah terfokus pada puisi saja. Kutulis puisi. Mereka sarankan tulisan-tulisan yang sadah selesai, harus dikirim ke media, biar tahu tulisan sudah bagus menurut orang atau belum, dan mereka rajin kasih info-info media mana saja yang bisa menerima tulisan-tulisan. Akupun ikuti saran itu. Memang, dituntut mengikuti standar kepenulisan media tersebut. Maka kata mereka kita harus mengenali standar media yang akan dituju.

Dengan iseng, aku hanya mengirim beberapa bait puisi yang sempat aku tulis dan kukirim via sms pada kawan-kawan, itu kukirim ke koran yang memuat puisi-puisi remaja. Dua minggu kutunggu, puisi terbit. Sampai sekarang puisiku baru sekitar 15-an yang terbit di koran.
Tak hanya nulis puisi, aku mulai nulis resensi buku. Beberapa kali resensi buku yang kutulis juga terbit di koran. Dan aku juga nulis berita dan liputan di Tabloid AKLaMASI UIR.

Kenapa menulis?

Kamu pasti kenal dengan Pramoediya Ananta Toer, katanya “Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.” Berarti menulis itu untuk keabadian. Itu pasti, dengan menulis kita dapat dikenal di mana-mana dan kapan saja, selama tulisan kita itu masih ada. Orang dapat mengenal kita jika kita menulis. Tulisan akan mengabadikan si penulis dan yang ditulis.

Menulis itu memang membuat kita abadi sepanjang masa. Siapa yang tau tentang kerajaaan Sriwijaya misalnya, jika itu tak ada yang nulis. Dan tulisan itu akan mengabadikan kerajaan Sriwijaya juga penulisnya.

“Tak menulis bak tak hidup,” Aku pikir menulis dengan hidup pasti berkaitan. Dengan menulis kita bisa hidup, ya…. hanya dengan menulis saja, kita dapat bertahan hidup. Jika kita menulis untuk media, kita pasti dikasih gaji, tergantung tarif medianya mau bayar per-tulisan itu berapa. Aku nulis puisi dikasih 30 ribu rupiah/puisi. Aku nulis resensi buku dikasih 50 ribu rupiah/resensi. Apa lagi kita menulis artikel, cerpen, atau tulisan serius dengan bagus, pasti dikasih gaji yang lebih besar. Kita bukan menulis untuk media lokal dan nasional saja, tapi bisa nulis untuk media Internasional. Atau kita menulis buku, lalu kirim ke penerbit, pasti dibayar. Apa lagi jika buku yang kita terbitkan best seller, maka makin banyak duit yang kita peroleh. Jadi dengan menulis bisa untuk biaya hidup.

Lain hal lagi. Kita adalah pelaku sejarah untuk hari esok. Kenapa kita tidak menulis hari ini untuk menjadi catatan sejarah esok. Jika kita nulis hari ini, berati kita nulis untuk hari esok, karena hari ini adalah sejarah esok hari. Anak-cucu kita pasti membutuhkan sejarah kita yang hidup saat ini.

Tulisan merupakan karya yang akan abadi sepanjang masa. Beda dengan kita hanya bergeming, omongan, bicara di depan publik atau diskusi dengan orang lain. Semua kata-kata yang kita keluarkan lewat mulut, akan terbang jauh dibawa angin. Suara itu akan hilang dari telinga kita. Maka lebih baik, kata-kata yang kita keluarkan itu, kita tulis saja.

Apa yang diomongkan tak bisa diedit, tapi yang ditulis masih bisa diedit. Menulislah untuk keabadian hidup, karena setiap orang adalah pelaku sejarah yang bisa menginspirasi orang esok hari. Menulislah biar jiwamu tenang. Tugasmu hanya menulis, gratis dan akan dapat imbalan. Akhir kata, “Menulis untuk Merdeka”.

*) Tulisan ini telah terbit dalam buku Dapur Ampuh, Antologi Penulis Kreatif FLP Riau Maret 2013