Islam di Negeri Feodal


KITA SUDAH TAHU bahwa Islam merupakan agama tauhid. Tentunya makna tauhid bukanlah sekadar yakin dalam hati dan ikrar pada lisan, namun yang juga sangat penting adalah perilaku keseharian umat Islam harusnya mencerminkan orang yang bertauhid. Dengan demikian tauhid bukan hanya vertikal – transendental, tapi ia juga merupakan hubungan sosial kemasyarakatan.

Jika dilihat muslim di Indonesia, sangat banyak perilaku yang tidak mencerminkan seorang muslim yang bertauhid. Gerakan Islam di Indonesia contohnya, beberapa gerakan organisasi Islam terkesan lebih menonjolkan identitas organisasi daripada menonjolkan identitas Islam itu sendiri. Dimana penonjolan ini otomatis membangkitkan ashabiyah tersendiri bagi pengikut organisasi tersebut. Organisasi Islam juga cenderung berjalan sendiri-sendiri, dan banyak yang memilih memjukan organisasinya daripada ummat secara keseluruhan. Selain itu organisasi Islam terlalu larut dalam politik secara berlebihan.

Maka menurut penulis buku ini, hal-hal tersebut menjadi sumber perpecahan, dan persoalan kemanusian seperti kemiskinan, pembantaian, dan sejenisnya kurang mendapat respon dan perhatian dari gerakan Islam.

Lebih parah lagi Islam di negeri yang katanya berbudaya ini, jadi komoditi dan bahan politisasi. Lihat saja, begitu banyak politisi ketika butuh dukungan masyarakat semua aktivitas keagaamaan dipublikasi, biar dia dikatakan orang religius. Mengadakan tabligh akbar, dzikir akbar, dan berbagai macam aktivitas ritual lainnya. Lalu setelah terpilih jadi pemimpin, perilaku mereka tidak sereligius saat mereka membutuhkan dukungan. Mereka seolah tidak tahu bahwa korupsi merupakan kesalahan besar terhadap umat. Pemimpin-pemimpin koruptor yang dianya beragama Islam, seolah menjadi citra bahwa tak ada pengaruh keislamannya terhadap perilaku korup yang ia lakukan.

Bukankah Riau ini negeri Melayu? Bukankah Melayu identik dengan Islam? Lalu kenapa pemimpin kita di negeri Melayu perilaku korupnya sangat luar biasa? Gubernur Riau secara berurutan dijebloskan ke jeruji besi karena korupsi dan aksi suap.

Saya pun teringat dengan Tunjuk Ajar Melayu, Apabila marwah sudah di kaki//tak ada lagi harga diri//nama tercemar rusaklah negeri//orang mencabar sesuka hati//bangsa yang besar tak berharga lagi// kalaupun hidup serupa mati.

Lalu bagaimana dengan marwah Melayu? Islam? Dan umat yang besar ini? Boleh jadi akibat dari pemimpin yang tidak menyatukan dan menginternalisasikan Islam dalam dirinya, membuat orang semaunya mengungkapkan, “Lebih baik memilih pemimpin kafir tapi jujur daripada pemimpin muslim tapi korupsi”.

Maka bukan berarti dalam tubuh umat Islam tidak ada lagi yang jujur, tapi marwah sudah hilang. Oleh karena itu, kalau diibaratkan najis, politisi kotor ini harus dibersihkan. Maka penting gerakan anti politisi kotor sebagai sebuah exit strategy untuk bangsa dan umat Islam yang lebih bermartabat.

Selain hal di atas, dikalangan umat Islam masih sangat banyak dijumpai pemahaman Islam yang formalistis.Pemahaman yang demikian menjadikan sebab kenapa Islam belum mampu tampil sebagai kekuatan moral dalam menata kehidupan bangsa. Kita turut bangga, ketika perempuan muslim makin banyak yang memakai jilbab dan mampu menutup auratnya, tapi sayangnya di samping itu angka pemerkosaan juga terus meningkat, banyak video lucah amatiran yang mana yang bercumbu disitu adalah justru perempuan-perempuan berjilbab.

Formalisasi Islam juga tentunya terjadi di dalam kehidupan politik, seperti Provinsi Nangro Aceh Darussalam yang sudah menerapkan aturan syariat Islam di daerah tersebut, lalu di daerah lain juga turut mengikuti. Sayangnya aturan ini hanya menyentuh formal dan lahiriahnya saja, dan terkesan hanya sekadar simbolik. Dan karena ini, menimbulkan kesan yang salah terhadap Islam, seperti Islam arab, menimbulkan kembali phobia terhadap Islam, yang mana mereka khawatir terhadap perlindungan dan keamanan mereka di daerah yang menerapkan syariat Islam.

Maka menurut Abdul Mu’ti, penerapan syariat Islam jangan hanya dimaknai sebatas penerapan hukum pidana dan perdata saja, namun harus lebih komprehensif agar tatanan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat tercapai dan terwujud.

Dilain hal menurutnya pemaknaan dan pencitraan Islam sebatas ritual dan spritual bisa sangat menyesatkan. Karena Islam adalah ajaran totalitas yang memiliki dimensi spritual, etik dan maslahat. Maka untuk menjadi muslim yang kaffah haruslah mencerminkan hal tersebut. Karena ritual ibadah bukanlah tujuan dan akhir ibadah, namun awal dari itu terpancar dimensi etik dan maslahat. Maka tauhid harus menjelma dalam sikap dan perbuatan yang luhur. Begitu halya shalat yang mana harus mencerminkan kecerdasan, rasionalitas, arif, dan beretikanya seorang muslim yang kaffah.

[hasil bacaan dari buku Deformalisasi Islam, tulisan Abdul Mu’ti]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s