Bukan Salah Kartini


RA Kartini merupakan perempuan keturunan ningrat, ia putri Bupati Jepara, RM Sosro Ningrat juga Istri keempat Bupati Rembang, RMAA Singgih Djojo Adiningrat yang berkuasa pada zaman penjajahan Belanda. Sesuai surat keputusan Presiden Soekarno nomor 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya, 21 April untuk diperangati sebagai Hari Kartini setiap tahun. Kartini dianggap sebagai pahlawan yang mengangkat harkat martabat para perempuan di tanah air. Kartini digadang-gadangkan sebagai tokoh feminisme Indonesia, emansipasi wanita dan kesetaraan gender.

Berkat pemikiran Kartini yang ia goreskan melalui surat-surat lalu ia kirim kepada sahabat penanya di Belanda, Estella H Zeehandelaar, Abendanon, van Kol, GK Anton, dan Ovink. Surat pertamanya dikirim 25 Mei 1899 untuk Zeehandelaar dan terakhir 7 September 1904 untuk Abendanon. Estella H Zeehandelaar perempuan aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij di Belanda yang mengenalkan Kartini pada berbagai ide modren terutama mengenai perjuangan perempuan dan sosialisme. Van Kol adalah orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar perempuan Indonesia.

Surat-surat yang ditulisnya berbahasa Belanda berisi hak dan kebebasan untuk kemerdekaan kaum perempuan. Penyetaraan pendidikan, poligami, pengungkungan kaum perempuan, kritik adat Jawa melihat rumitnya tradisi penghormatan bagi kalangan ningrat Jawa, yang ia rasa merendahkan martabat manusia.

Begitulah perjuangan Kartini untuk perempuan Jawa. Sebatas pemikiran lewat surat-surat yang ia tuliskan berbahasa Belanda. Surat-surat itu pun lalu diterjemahkan Amijn Pane tahun 1938 kebahasa Indonesia dan dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang dari versi aslinya berbahasa Belanda, Door Duistemis Tot Licht. Selain itu surat-surat Kartini juga diterjemahkan Sulastin Sutrisno berjudul, Surat-surat kartini, Renungan Tentang dan untuk Bangsanya.

49 tahun sudah Kartini jadi pahlawan nasional dari kalangan perempuan Jawa. Begitulah penghargaan yang diberikan bagi pejuang feminisme ini. Meski berjuang hanya lewat surat bukan dengan angkat senjata, tapi Kartini tetap ada di benak bangsa Indonesia.

Pada 1970-an Harsja W. Bahtiar pernah menulis  artikel Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarkat Kita, berisi gugatan penokohan Kartini yang dilakukan Presiden Soekarno. Ia mengungkapkan bahwa bangsa ini telah mengambil alih tokoh emansipasi wanita Indonesia yang ditokohkan oleh Belanda dan mengembangkannya tanpa membuat lambang atau tokoh baru.

Pahlawan atau pejuang perempuan di nusantara ini yang lebih nyata bertindak dibandingkan Kartini sangat banyak sekali. Pejuang yang nyata-nyatanya melawan dan sangat dibenci Belanda. Bukan yang dipahlawankan dan dicintai Belanda macam Kartini. Kartini yang jelas dekat sekali dengan Belanda lantaran suaminya seorang bupati yang berafiliasi dengan penjajah Belanda. Wajar saja penjajah Belanda menaruh perhatian besar bagi Kartini yang selalu curhat dengan orang-orang Belanda, salah satunya Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan saat itu. Abendanon didorong Penasehat Pemerintah Hindia Belanda, Cristiaan Snouck Hurgronje untuk membukukan surat-suratnya.

Perempuan-perempuan Indonesia yang punya ide dan bertindak secara nyata malah tenggelam dalam lautan sejarah yang diseting penguasa. Kenapa tidak hari kelahiran mereka saja yang dijadikan hari emansipasi dan perjuangan perempuan. Misal, hari kelahiran Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Christina Tahahu atau Cut Meutia. Ataukah karena para pahlawan perempuan lainnya tidak dekat dengan penguasa di Jawa atau bahkan Belanda saat itu? Sungguh sepertinya ada pilih kasih penghargaan.

Tak ada yang benci maupun  tidak suka pada Kartini, yang sangat disayangkan, sebanyak itu pahlawan perempuan yang berani angkat senjata, yang langsung terjun kelapangan merubah nasib para wanita, memberikan pendidikan, pemahaman agar tidak ditindas dan dijajah bangsa Belanda, kenapa pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden Soekarno seolah mengistimewakan Kartini saja?

Meski banyak yang menggugat pengkultusan Hari Kartini, jelas ini bukan salah Ibu Kita Kartini. Sejarah yang dipaksa agar siapa pun mengetahui Kartini dekat dengan penjajah Belanda. Sejarah dipaksa biar Kartini, wanita Jawa itu ada nama dalam buku sejarah kita. Beda dengat Cut Nyak Dien yang diburu penjajah Belanda hingga dipenjara atau Malahayati, perempuan pertama yang jadi panglima, Rohana Kudus yang mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia di Ranah Minang, ia juga jurnalis. Dan ada ahli pemerintahan dan sejarah dari Sulawesi Selatan, Siti Aisyah We Ten Riolle dan perempuan-perempuan pejuang lainnya.

Dibalik semua itu, peringatan dan perayaan Hari Kartini nyaris tanpa esensi, yang diingat memang emansipasi wanita, kesetaraan gender, akan tetapi para perempuan Indonesia kebanyakan memperingatinya dengan kontes fesyen, sepasang Konde dan Kebaya. Lenggak-lenggok di atas panggung. Apa kata Kartini, jika hari yang mengharumkan namanya itu diperingati sebatas memperlihatkan kecantikan dan kemolekan perempuan pakai sepasang Konde dan Kebaya? Tidak sesempit ini makna yang dimaksudkan Kartini menulis surat-surat itu. Padahal ada makna tersirat yang disampaikan Kartini, yakni menulis, adalah senjata bagi siapa yang mau diakui dan tetap ada. Kartini menulis, maka Kartini ada.

Maka Kartini membahas emansipasi wanita adalah penyetaraan hak bukan kedudukan. Sama-sama berhak mendapat pendidikan, bersuara, berserikat dan dapat perlakuan baik dari siapa pun. Kodrat wanita dengan lelaki pasti tak bisa disamakan. Hak itu bisa sama, tapi kewajiban juga bisa berbeda. Jangan disamakan kedudukan perempuan dalam hal ibadah ritual. Jangan pula dibedakan wanita itu lemah dan lelaki itu kuat. Banyak wanita lebih kuat dari lelaki, begitu sebaliknya.

Kalaupun lebih dari itu, kesetaraan yang diinginkan mungkin sudah mulai jelas, ada perempuan jadi sopir bus, sekuriti, petugas parkir, wanita karir, presiden, wakil rakyat, dan bahkan ada yang jadi kepala keluarga atau rumah tangga. Namun dalam Islam perempuan yang mempersiapkan generasi masa depan dengan mendidik putra-putrinya jauh lebih berharga ketimbang ia harus sibuk di luar rumah dengan mengabaikan rumah tangganya. Jadilah pahlawan, perempuan yang mempersiapkan generasi pejuang masa depan bangsa.

Dan yang penting, jangan salahkan Kartini jika pemerintah menjadikannya pahlawan bagi wanita Indonesia. Jangan salahkan Kartini, jika istri menyuruh suaminya menyusui. Bukan salahmu Kar.

Iklan

One thought on “Bukan Salah Kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s