Berdakwah Lewat Sosial Media


PERKEMBANGAN teknologi tak bisa dihambat, ia terus melaju kencang, seakan mengikutinya saja amat payah. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ada versi atau model terbaru. Akan tetapi yang paling penting dari perkembangan teknologi ini adalah bagaimana setiap orang dapat memanfaatkannya dangan baik. Tak terkecuali bagi seorang da’i, mubalig atau ustaz. Di tengah gempuran tsunami informasi, seorang dai harus mengambil peran pentingnya sebagai penyampai pesan dakwah dan nasihat agama.

Hampir setiap orang akrab dengan sosial media, mulai dari Facebook, Twitter, You Tube, Instagram, dan yang lainnya tanpa terbatas ruang, waktu, bahkan umur dan profesi. Dari data Kominfo pada tahun 2012, penduduk Indonesia yang menggunakan Facebook mencapai 44,6 juta jiwa, sedangkan yang menggunakan Twitter mencapai 19,5 juta. Kemudian dari survei yang dilakukan Frontier Consulting Group, hasil survei yang dilakukan di enam kota besar menunjukan 97,5 persen remaja umur 13 hinga 19 tahun menggunakan sosial media.

Perlu diketahui bahwa nasib bangsa dan agama kedepan ada pada anak muda sekarang. Mereka harus dipersiapkan agar menjadi generasi yang baik dan terlatih, serta mempunyai pemahaman agama dan akhlak yang benar. Dengan demikian perlu pendekatan yang lebih agar anak muda mudah mengakses ilmu agama yang benar.

Umunya anak muda tidak begitu sering datang, duduk dan mendengarkan pengajian atau ceramah di Mesjid. Mungkin karena kesibukan mereka dengan berbagai aktivitas yang harus mereka persiapkan untuk masa depan. Hal yang demikian harus disiasati agar anak muda tetap dapat belajar agama dari sumber yang benar. Ketika mereka tidak berusaha mendekati agama, maka penyiar (dai) agama yang mengambil peran bagaimana mendekati mereka agar Islam tetap dekat dan ada dalam diri mereka. Baca lebih lanjut

Marah dan Ramah


Kolom Hikmah RepublikaMarah merupakan sikap yang tak baik bagi setiap manusia. Jika seseorang memiliki sikap marah maka sering kali ia dapat stigma negatif sebagai pemarah. Perlu dipahami bahwa sikap pemarah dampaknya sangat besar bagi kehidupan. Orang yang pemarah akan menjadi orang yang sangat sensitif.

Demikian juga biasanya pemarah tidak mempunyai banyak teman. Karena sikapnya yang pemarah maka orang-orang akan menjauh darinya, boleh jadi rezekinya pun begitu. Mengapa demikian? Karena, rezeki itu bukan langsung diberikan atau diturunkan Allah begitu saja kepada kita, melainkan lewat orang di sekitar kita dengan berbagai cara. Maka, disebabkan hal-hal yang demikian Rasulullah dengan tegas melarang kita agar tidak marah.

Sebalikanya, sikap ramah dan pemaaflah yang seharusnya kita munculkan bagi setiap orang. Tentunya, dengan menjadi orang yang ramah teman akan banyak dan begitu juga jalan rezeki yang insya Allah, akan banyak dan mudah. Karena, satu di antara sekian banyak kerugian dari seorang pemarah adalah memiliki musuh yang banyak dan begitupun sebaliknya.

Dua hal di atas sangat berlawanan dan keduanya merupakan akhlak buruk dan akhlak baik. Hal ini dijelaskan Allah lewat firmannya, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 3)

Penjelasan di atas memberikan pemahaman keuntungan menjadi orang yang ramah juga pemaaf.Sedang kan kerugian menjadi pemarah tidak hanya di dunia, tapi juga akhirat. Karena, pemaaf merupakan amal kebaikan yang sangat disukai Allah dan digolongkan sebagai orang yang bertakwa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan at- Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menahan marah padahal dia mampu melampiaskannya maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai.

Maka, hal ini mengajarkan kepada kita bahwa pemarah bukan sifat yang baik bagi seorang Muslim. Sebab Islam mengajarkan untuk menjadi orang yang ramah dan pemaaf. Sikap ramah dan menjalin hubungan baik dengan orang membuat seseorang terus berkembang, baik segi pengetahuan, bisnis, atau pengalaman hidup. Karena, kata Rasulullah, siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahim.

Ramah juga boleh diartikan dengan silatu rahim yang memiliki peranan penting, khususnya dalam kehidupan seseorang Muslim. Silaturahim menjadi tonggak yang mengokohkan banyak hal. Mulai dari persatuan, perhatian, kasih sayang, mata pencahari – an, hingga memudahkan seseorang memasuki surga-Nya. Walllahu a’lam.

Naskah ini terbit di Kolom Hikmah Koran Republika Edisi Sabtu, 11 April 2015

Dekat Allah


Pagi itu seorang guru madrasah menjelaskan keberadaan Allah kepada murid-muridnya. Ia mengatakan Allah itu ada di mana-mana, ke mana pun pergi Allah ada di situ, apa pun yang dilakukan Allah selalu mengawasi. Dengan arti bahwa Allah dekat sekali dengan manusia. Dia tak berjarak dan lebih dekat dari urat leher.

Lalu seorang siswa bertanya, ”Tapi kenapa manusia lebih banyak yang mengerjakan kejahatan daripada kebaikan jika Allah memang dekat dengan kita Ustad?” Baca lebih lanjut

Jumat Tertunduk


Tak ada yang istimewa bagiku Jumat ini, siap-siap mau Shalat Jumat itu hal biasa. Akantetapi telat masuk mesjid untuk Shalat Jumat hal yang merugikan sekali bagiku. Ibarat kuliah, banyak dosen yang bikin aturan kalau telat 15 menit saja, tak diabsen hadir lagi, walaupun ada juga yang tak bolehkan masuk. Allah tak sekejam dosen yang berani keluarkan mahasiswa jika telat masuk kelas. Tapi Malaikat tak akan catat muslim yang telat hadir untuk Shalat Jumat, pahalanya sih tetap dihitung.

Jumat ini aku memang telat masuk Mesjid. Kahtib pun sudah mulai sampaikan khutbah. Shalat Tahiyat. Dengarin Khatib. Isi khutbahnya bahas Budaya Islami. Entah kenapa yang dicacinya budaya nenek moyang, budaya Hindu, juga budaya kristen. Katanya, budaya Islami itu, budaya yang tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits. Begitu semangat sang khatib menyampaikannya. Baca lebih lanjut

Agama Asli Terdiskriminasi


Dari sekitar 245 kepercayaan asli di  Indonesia,
belum satu pun diakui pemerintah sebagai agama yang sah

Berdasakan UU No 1 PNPS 1965, agama yang sah di Indonesia, Hindu, Budha, Islam, Kristen. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang punya kepercayaan lain di luar penganut agama tersebut mengeluh, paling tidak mereka dapat tindakan diskriminatif.“Agama asli Indonesia tidak diakui, tapi agama ‘Impor’ yang diakui,” kata Boru Panjaitan, Penghayat Kepercayaan Ugamo Malim (Parmalim) di Medan, 22 Oktober 2011.

Di Sumatera Utara ada kepercayaan asli Batak dari nenek moyangnya yang masih terpelihara sampai sekarang. Kepercayaan itu Ugamo Malim, dan mulai terorganisir 21 April 1921. Tuhannya Debata Mulajadi Nabolon. Nabinya Raja Mulia. Kitab suci mereka bersumber pada Patik Niugamo Malim—pokok ajaran malim—bentuknya hanya lisan, namanya Pustaha Habonoron—kata mereka aslinya ada di Belanda. Dan mereka sembahyang di Bale Pasogit atau Balai Parsantian setiap hari Sabtu. Baca lebih lanjut

HAJI MABRUR dan HAJI TOUR


Haji merupakan amal badaniyah dan maliyah, yaitu amal yang dikerjakan dengan segenap jasmani, rohani dan harta. Berbeda dengan rukun Islam yang lain, shalat dan puasa hanya amal badaniyah, sedangkan zakat hanya amal maliyah. Haji diwajibkan bagi orang yang sanggup. Sanggup dari segi jasmani dan rohani, juga sanggup dari segi harta. Kesanggupan jadi patokan bagi setiap muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Orang yang tidak sehat jasmani dan rohaninya, tapi dia punya kesanggupan dari segi harta atau biaya, maka tidak ada hukum wajib haji baginya. Juga yang sehat jasmani dan rohaninya, namun tak ada kesanggupan hartanya, juga tak ada kewajiban menunaikan haji baginya. Baca lebih lanjut

Tuhan, Kamu di Mana?


“Jadi di mana letak Tuhan?”
“Aku sudah bilang. Aku tak tau di mana Tuhan. kalau aku tahu Tuhan di mana, dari dulu aku sudah jumpa sama Dia. Karena sepengetahuanku, Tuhan itu tak (butuh) bertempat,” kujawab dengan nada sedikit ketawa.

Nasi Goreng pesananku baru separuh piring habis. Dua orang tiba ke kedai jual Nasi Goreng harga lima ribu rupiah itu. Satu termasuk teman lama (tiga tahun, lumayan lama) tak dekat amat lah. Yang satu lagi tak kenal. Sudah lama tak jumpa. Biasanya kami jumpa paling sering di Mesjid tempatku. Bahasan kami pun waktu berbual tak pula lah masalah agama dan ke-Tuhan-an. Tiba-tiba—kali ini—dibahasnya aku sebagai Ghorim (Penjaga Mesjid) juga Mahasiswa yang kuliah di Fakultas Agama Islam (FAI).

Diawalinya dengan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan dia tentang shalat dan keberadaan Tuhan.

“Tuhan di mana?”
“Aku tak tau Tuhan di mana.”
“Untuk apa kamu shalat?”
“Mencari ketenangan batin.”
“Cuma itu?”
“Bukan. Dalam shalat aku bercinta dengan Allah. Disana (waktu shalat) aku bisa berkomunikasi dengan—Nya.”
“Terus, apa fungsi bagimu shalat?”
“Tanha ‘anil fakhsyai wal munkar, menyelamatkanmu dari kejahatanku.”

Dia terus bertanya. Terkadang pertanyaan sama diulang. Mungkin dia tak puas dengan jawabanku.

“Jadi di mana letak Tuhan?”
“Aku sudah bilang. Aku tak tau di mana Tuhan. kalau aku tahu Tuhan di mana, dari dulu aku sudah jumpa sama Dia. Karena sepengetahuanku, Tuhan itu tak (butuh) bertempat,” kujawab dengan nada sedikit ketawa.
“Kau kan kuliah di FAI, masa` kau tak tau Tuhan di mana.”
“Jangan anggap semua yang kuliah di FAI itu tau masalah agama.”
“Berarti ilmumu belum sampai ke situ.”
“Pastinya dong, kalau sudah sampai taulah aku Tuhan itu di mana.”
“Jadi, apa ayat yang mengatakan Tuhan itu tak (butuh) bertempat?”
Aku tak jawab. Aku balik bertanya, “Apa pula lah ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan bertempat?”
Ia juga tak jawab pertanyaanku. “Masa` kamu Tanya aku lagi, kamu kan kuliah di FAI dan shalat tiap waktu, tinggal di Mesjid lagi.” Lagi-lagi FAI yang disapi putihkan.

Sebenarnya aku bisa sebutkan dalil yang menjelaskan Allah tak (butuh) bertempat. Karena, agak sebel dengan pertanyaannya yang seakan mengujiku, maka aku balik bertanya. Dan aku juga bisa sebutkan dalil yang menunjukkan Allah itu bertempat.
Aku masih terus makan Nasi Goreng. Perdebatan ini agak serius dikit. Orangpun mulai alih perhatian ke kami.

“Kamu harus cari Tuhan di mana.”
“Aku bukan pencari Tuhan, karena aku sudah tau Tuhan tak bertempat. Masa` ku cari lagi.”
“Pokoknya harus kamu cari. Nanti kamu sesat tak tau Tuhan di mana.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Untuk apa kucari. Kalau mau kucari, kenapa nggak dari dulu?”

Nasi gorengku habis. Aku minum. Dia juga ambil minum sambil nunggu pesanan Minas-nya.

Dia tetap nyuruh aku cari Tuhan . Katanya nanti aku sesat. Kutanya dia, bagaimana konsep sesat? Katanya sesat itu orang yang tak mengamalkan agamanya. Kubilang orang yang sesat itu, orang yang lari dari jalan sebenarnya. Jadi, katanya lagi aku nanti bisa menyesatkan—jika tak kucari Tuhan.

“Tau nggak kamu?”
“ Nggak tau, apa tu?”
“Buka web.”
“Emang harus buka web ya?”
“Buka lah web.”
“Ooo…. Maksudmu aku cari di web. Kamu suruh aku berguru ke web.”
Lagi-lagi, “Aku tak suruh kamu berguru sama web. Tapi buka web.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Masa` kamu suruh aku nyari Tuhan di web. Mana pula jumpa.”
Ibu, Penjual Nasi Goreng tersenyum melihat dan mendengar perdebatan kami. Orang yang di kedai itu pun pandangannya mengarah ke kami juga. Kawannya dari awal diam saja, asyik nonton—mungkin dia sudah satu pemahaman dengan kawannya itu.
“Pokoknya bukalah.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Apalagi sampai nyarinya ke web.”
“terserah kamulah, nanti kamu sesat.”
“Rasulullah aja tak suruh buka Al Quran, apalagi buka web—untuk mencari Tuhan. Tapi Rasulullah suruh buka hati.” Dan “Aku bukan pencari Tuhan, tapi aku pencari jalan menuju Tuhan”.

Perdebatan (diskusi kusir juga tak apa-apa) tak ada titik temu. Dia tak bilang Tuhan di mana. Aku memang tak tau Tuhan di mana. Mungkin dia memahami keberadaan Tuhan itu dari ilmu sufi. Atau dia hanya baca di web (internet), setelah dibacanya lantas ditanyakannya (diuji) sama orang, apakah orang tau dimana Tuhan itu sesuai dengan pemahamannya.

Menurutku apapun yang kita peroleh dari internet haruslah diverifikasi, karena bisa saja orang yang tak punya ilmu, atau malah yang mau mengacaukan yang bikin posting itu. sesuatu ilmu jangan hanya dibaca dan dipahami sendiri, tapi harus dipelajari dengan berguru pada yang mengetahui. Jangan sampai kita sesat seperti yang sangat dikhawatirkannya terhadap diriku yang tak tau Tuhan dimana.

Kubayar Nasi Goreng. Pesanan Minas mereka terhidang. “Aku duluan—maksudku pulang sekarang, bukan nyari Tuhan,” pamitku. Kukayuh sepeda janda—ungu—ku. Sepeda yang menghiasi perjalanan hidupku. Aku pulang ke Mesjid tempatku, tentunya bukan nyari Tuhan. Wallahu‘a`lamu bishshawab!

Kebenaran Fungsionalitas Agama


Jika aku Kristen dan kamu Islam, apakah menurut Kristen Islam itu benar? Tentunya tidak. Karena kebenaran Islam itu adalah kebenaran versi Islam (baca: Allah — Tuhan Muslim) dan penganutnya. Bukan kebenaran versi Kristen dan penganutnya.

Dalam Elemen Jurnalisme disebutkan Jurnalisme Harus Berpihak Pada Kebenaran. Tapi aku tak bahas masalah jurnalisme dalam tulisan ini. Jadi, menurut jurnalisme kebenaran itu fungsional. Tak bisa dipatokan dalam satu kebenaran menurut Agama Islam, Kristen, pakar, pengamat, atau kebenaran menurut kamu. Pastinya kebenaran menurutmu dengan kebenaran menurut aku beda dunkz (alay).

Jika aku Kristen dan kamu Islam, apakah menurut Kristen Islam itu benar? Tentunya tidak. Karena kebenaran Islam itu adalah kebenaran versi Islam dan penganutnya. Bukan kebenaran versi Kristen dan penganutnya.

Shalat Jumat, 30 Desember 2011 di Mesjid Munawarah, Universitas Islam Riau. Khatib yang menyampaikan khutbahnya saat itu dengan berapi-api, dia bilang Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu dan keyakinan lain di luar Islam itu bukan agama.

Katanya hanya Islam yang agama. Dalam Al Qur’an Allah tak menyebutkan macam itu. Akan tetapi Allah sebutkan bahwa banyak agama di dunia ini, Yahudi, Nasrani, Kristen, Majusi dan keyakinan lain. Allah SWT saja mengakui keberadaan agama-agam itu, mengapa Khatib mengingkari keberadaan yang Allah akui?

Allah Subhanahu Wata’ala, Ilah alam semesta yang menjadikan semua yang terjadi, menciptakan semuanya dengan sebaik-baiknya dan merencanakan semuanya dengan pasti.

Allah pasti Lebih (Maha) Tahu dari Mbah Google, karena Barry Eko Lesmana bilang Google Maha Tahu—bisa jadi, karena rata-rata semua yang diinginkan si peminta bisa dipenuhi Google, meski tak semuanya Perfect.

Akantetapi, Google lebih tahu dari Khatib yang menyampaikan khutbahnya itu di depan para dosen, mahasiswa dan insan terdidik lainnya. Mungkin Khatib itu perlu disuruh kuliah masalah keagamaan—bukan hanya Islam— lagi, biar dia meneruskan misi Rahmatan lil’alamin.

Terkadang kita dipaksa pluralisme. Karena keadaan di atas, hal ini menjaga kedamaian di bumi Allah ini. Bukankah plural (tanpa isme) termaktub dalam Al Quran, Kitab suci ummat Islam.

Plural dalam Islam itu ada tapi bukan untuk pluralisme. Plural dalam Islam itu bukti bahwa Allah dan Muslim sebagai hambanya mengakui keberadaan ummat lain di luar Islam.

Islam mengakui agama-agama yang ada di dunia ini, bukan membenarkannya. Allah tetap memilih Islam sebagai diin (Agama, Melayu) di sisinya. Wallahu’a’lamu bishshawab!

Ulah Muslim Ortodoks


Tragedi Sampang, Madura jadi contoh untuk “Kebrutalan”—Kebodohan—Muslim ortodoks, pembakaran itu seolah jadi neraka bagi ummat Syi’ah yang mereka katakan lari dari pemahaman—Islam— versi mereka. Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik jadi sasaran pengadilan dan penjatuhan hukuman karena sesat—versi mereka juga.

Islam ada untuk membebaskan ummat dari belenggu kebodohan, kekolotan dan keterbelakangan. Islam bukan untuk orang-orang terdahulu. Juga bukan untuk orang tertentu. Islam ada untuk meyelamatkan. Islam bukan hanya untuk orang-orang yang menganut Islam (Muslim), tetapi juga untuk umat di luar Islam. Banyak Muslim—khusus di Indonesia¬—merasa paling berhak dengan Islam. Mereka merasa paling benar diantara Muslim lain yang tak satu paham dengan mereka. Mereka bikin Islam itu sempit juga ketinggalan zaman.

Muslim ortodoks—menunurutku—julukan yang sangat cocok bagi mereka. Islam ortodoks dengan Muslim ortodoks jelas beda. Muslim ortodoks, mereka orang yang menganut paham kekolotan atau tradisionalisme. Bukan islam yang kolot, tapi dasar merekanya yang kolot sebelum menjadi Muslim. Musuh utama mereka adalah orang yang punya pikiran terbuka atau lebih tepatnya Muslim yang punya pemikiran kontemporer atau modernism

Kenapa demikian? Kebenaran Islam itu jadi kebenaran versi mereka sendiri. mereka jadi Tuhan agama mereka sendiri. Menghukum orang dengan kekuatan mereka. Melebelkan sesat pada Muslim lain.

 

 

 

 

Tragedi Sampang, Madura jadi contoh untuk “Kebrutalan”—Kebodohan—Muslim ortodoks, pembakaran itu seolah jadi neraka bagi ummat Syi’ah yang mereka katakan lari dari pemahaman—Islam— versi mereka. Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik jadi sasaran pengadilan dan penjatuhan hukuman karena sesat—versi mereka juga.

Akhirnya Muslim yang kelihatan hanya pereman-pereman berjubah, berserban dan berjenggot. Yang akhirnya identitas jubah, serban, dan jenggot jadi momok bagi Muslim dan ummat lain, karena ulah pereman-pereman itu. Muslim yang seharusnya melindungi siapa saja, jadi menghancurkan siapa saja. Miris. Kan Islam juga jadinya yang jelek.

Di mana letak Islam Rahmatan lil’alamin? Istilah ini jadi makin sempit, rahmat itu seharusnya bagi semua makhluk di alam ini. Jadi, rahmat itu mereka bikin khusus Muslim saja. Tidak boleh orang lain dapat rahmat, ketenangan, serta kedamaian.

Di masa Rasulullah SAW tak pernah ummat Islam bikin aksi seperti itu. Karena Rasul sendiri tidak menyuruh perbuatan “biadab” seperti yang mereka lakukan. Wallahu’a’lamu bishshawab!