Islam di Negeri Feodal


KITA SUDAH TAHU bahwa Islam merupakan agama tauhid. Tentunya makna tauhid bukanlah sekadar yakin dalam hati dan ikrar pada lisan, namun yang juga sangat penting adalah perilaku keseharian umat Islam harusnya mencerminkan orang yang bertauhid. Dengan demikian tauhid bukan hanya vertikal – transendental, tapi ia juga merupakan hubungan sosial kemasyarakatan.

Jika dilihat muslim di Indonesia, sangat banyak perilaku yang tidak mencerminkan seorang muslim yang bertauhid. Gerakan Islam di Indonesia contohnya, beberapa gerakan organisasi Islam terkesan lebih menonjolkan identitas organisasi daripada menonjolkan identitas Islam itu sendiri. Dimana penonjolan ini otomatis membangkitkan ashabiyah tersendiri bagi pengikut organisasi tersebut. Organisasi Islam juga cenderung berjalan sendiri-sendiri, dan banyak yang memilih memjukan organisasinya daripada ummat secara keseluruhan. Selain itu organisasi Islam terlalu larut dalam politik secara berlebihan.

Baca lebih lanjut

Strategi Pesantren Menghadapi MEA 2015


PESANTREN sudah ada di Indonesia dari abad ke-14 Masehi. Pesantren bertransformasi menjadi lembaga pendidikan nonformal yang mengembangkan ilmu Islam. Ini sesuai dengan Pasal 26 UU Nomor 20 Tahun 2003. Selain itu pesantren juga merupakan lembaga yang berperan aktif memberdayakan masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia, yang juga turut serta memperjuangkan kemerdekaan republik ini. Namun yang sangat disayangkan di era globalisasi yang penuh dengan kapitalisasi dan liberaliasi ini, seakan mengubah wajah pesantren jadi kelihatan sangar. Sedikit banyaknya ia dituduh juga sebagai lembaga yang memproduksi orang-orang radikal dan teroris, padahal tidaklah demikian adanya.

Sebenarnya para santri yang menimba ilmu di pesantren bukan didoktrin dengan hal yang demikian. Mereka mengkaji ilmu Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqh, Mantiq (filsafat) dan Lughah (bahasa) adalah untuk mengembangkan ilmu Islam yang benar agar terhindar dari fanatisme buta. Perlu diketahui bahwa hampir di setiap pesantren juga diajarkan ilmu sains, sosial juga ekonomi dan tidak terlepas apakah ia pesantren salaf atau modern.

Meskipun demikian ada hal yang lebih penting lagi, yang harus dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini termasuk pesantren mempersiapkan diri. Mampu atau tak mampu menghadapinya tetap akan tiba masanya, itulah sebabnya harus dipersiapkan, yaitu ASEAN Economic Comunity (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Beberapa pesantren di pulau Jawa sudah membahas hal ini dalam berbagai forum diskusi, bagaimana pesantren menghadapi pasar bebas saat diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena itulah ini merupakan isu strategis yang harus dibahas dan dihadapi pesantren. Meskipun sebahagian orang menganggap bahwa pesantren tidak masuk hitungan ketika berbicara soal kekuatan ekonomi. Baca lebih lanjut

Berdakwah Lewat Sosial Media


PERKEMBANGAN teknologi tak bisa dihambat, ia terus melaju kencang, seakan mengikutinya saja amat payah. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ada versi atau model terbaru. Akan tetapi yang paling penting dari perkembangan teknologi ini adalah bagaimana setiap orang dapat memanfaatkannya dangan baik. Tak terkecuali bagi seorang da’i, mubalig atau ustaz. Di tengah gempuran tsunami informasi, seorang dai harus mengambil peran pentingnya sebagai penyampai pesan dakwah dan nasihat agama.

Hampir setiap orang akrab dengan sosial media, mulai dari Facebook, Twitter, You Tube, Instagram, dan yang lainnya tanpa terbatas ruang, waktu, bahkan umur dan profesi. Dari data Kominfo pada tahun 2012, penduduk Indonesia yang menggunakan Facebook mencapai 44,6 juta jiwa, sedangkan yang menggunakan Twitter mencapai 19,5 juta. Kemudian dari survei yang dilakukan Frontier Consulting Group, hasil survei yang dilakukan di enam kota besar menunjukan 97,5 persen remaja umur 13 hinga 19 tahun menggunakan sosial media.

Perlu diketahui bahwa nasib bangsa dan agama kedepan ada pada anak muda sekarang. Mereka harus dipersiapkan agar menjadi generasi yang baik dan terlatih, serta mempunyai pemahaman agama dan akhlak yang benar. Dengan demikian perlu pendekatan yang lebih agar anak muda mudah mengakses ilmu agama yang benar.

Umunya anak muda tidak begitu sering datang, duduk dan mendengarkan pengajian atau ceramah di Mesjid. Mungkin karena kesibukan mereka dengan berbagai aktivitas yang harus mereka persiapkan untuk masa depan. Hal yang demikian harus disiasati agar anak muda tetap dapat belajar agama dari sumber yang benar. Ketika mereka tidak berusaha mendekati agama, maka penyiar (dai) agama yang mengambil peran bagaimana mendekati mereka agar Islam tetap dekat dan ada dalam diri mereka. Baca lebih lanjut

Mengeja Islam dalam Karya Griven H Putera


EsaiJIKA BICARA Melayu tak pelak kita harus bicara soal Islam. Bukan kah Melayu adalah Islam, atau jiwa Melayu itu adalah Islam. Membincangkan karya sastra Melayu, sudah barang tentu perbincangan itu tak jauh dari nilai-nilai keislaman. Karena ruh Islam sudah bersatu tubuh dengannya. Namun karya sastra Melayu tak harus pula kita sebut ia sebagai sastra Islami, hal ini karena sastra melayu itu laksana jasad, ruhnya adalah Islam.

Sastra Melayu yang memiliki ruh Islam ia akan berlandaskan pada sosial budaya orang Melayu yang bermoral. Lewat karya sastra Melayu (baca: Islam) menurut Ala al Mozayyen yang disampaikannya pada Seminar Sastra Islam Internasional awal 2011 lalu, terdapat tujuh karakteristik dalam sastra Islam, yang terdiri dari konsistensi, pesan, universal, tegas dan jelas, sesuai dengan realita dan menyempurnakan perangai (akhlak) manusia. Sedangkan Goenawan Mohammad menyebutkan bahwa sastra Melayu menyampaikan sistem kepercayaan atau bahkan ajaran Islam, memuji dan mengangkat tokoh-tokoh muslim, mengkritik realitas yang tak sesuai dengan niai-nilai Islam, atau setidaknya sastra tak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (Goenawan Mohamad: 2010).

Setelah sekian lama penyebutan sastra Islam, maka muncul istilah “Sastra Profetik” yang digagas oleh Kuntowijoyo lewat tulisannya di Majalah Horison pada tahun 2005, berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika dan Struktur Sastra)”. Kuntowijoyo sendiri mendefenisikan ini sebagai karya sastra yang memiliki nilai-nilai kenabian, yang dalam hal ini juga mengemban misi kenabian.

Boleh jadi gagasan Kunto ini dengan sengaja telah bersinggungan dengan apa yang telah disampaikan Allah dalam QS Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kamu menyuruh mereka kepada yang ma’ruf. Dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.” Maka peran manusia selain sebagai hamba yang harus beriman, ia juga mengemban amanah suci yang harus menyampaikan apa yang benar, dan selalu mengajak kepada kebaikan, serta memberi peringatan dan nasihat agar orang-orang terhindar dari keburukan. Hal ini dapat disebut sebagai nilai ataupun ruh keislaman. Baca lebih lanjut

Marah dan Ramah


Kolom Hikmah RepublikaMarah merupakan sikap yang tak baik bagi setiap manusia. Jika seseorang memiliki sikap marah maka sering kali ia dapat stigma negatif sebagai pemarah. Perlu dipahami bahwa sikap pemarah dampaknya sangat besar bagi kehidupan. Orang yang pemarah akan menjadi orang yang sangat sensitif.

Demikian juga biasanya pemarah tidak mempunyai banyak teman. Karena sikapnya yang pemarah maka orang-orang akan menjauh darinya, boleh jadi rezekinya pun begitu. Mengapa demikian? Karena, rezeki itu bukan langsung diberikan atau diturunkan Allah begitu saja kepada kita, melainkan lewat orang di sekitar kita dengan berbagai cara. Maka, disebabkan hal-hal yang demikian Rasulullah dengan tegas melarang kita agar tidak marah.

Sebalikanya, sikap ramah dan pemaaflah yang seharusnya kita munculkan bagi setiap orang. Tentunya, dengan menjadi orang yang ramah teman akan banyak dan begitu juga jalan rezeki yang insya Allah, akan banyak dan mudah. Karena, satu di antara sekian banyak kerugian dari seorang pemarah adalah memiliki musuh yang banyak dan begitupun sebaliknya.

Dua hal di atas sangat berlawanan dan keduanya merupakan akhlak buruk dan akhlak baik. Hal ini dijelaskan Allah lewat firmannya, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 3)

Penjelasan di atas memberikan pemahaman keuntungan menjadi orang yang ramah juga pemaaf.Sedang kan kerugian menjadi pemarah tidak hanya di dunia, tapi juga akhirat. Karena, pemaaf merupakan amal kebaikan yang sangat disukai Allah dan digolongkan sebagai orang yang bertakwa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan at- Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menahan marah padahal dia mampu melampiaskannya maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai.

Maka, hal ini mengajarkan kepada kita bahwa pemarah bukan sifat yang baik bagi seorang Muslim. Sebab Islam mengajarkan untuk menjadi orang yang ramah dan pemaaf. Sikap ramah dan menjalin hubungan baik dengan orang membuat seseorang terus berkembang, baik segi pengetahuan, bisnis, atau pengalaman hidup. Karena, kata Rasulullah, siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahim.

Ramah juga boleh diartikan dengan silatu rahim yang memiliki peranan penting, khususnya dalam kehidupan seseorang Muslim. Silaturahim menjadi tonggak yang mengokohkan banyak hal. Mulai dari persatuan, perhatian, kasih sayang, mata pencahari – an, hingga memudahkan seseorang memasuki surga-Nya. Walllahu a’lam.

Naskah ini terbit di Kolom Hikmah Koran Republika Edisi Sabtu, 11 April 2015

Media Islam dan Radikalisme


Opini Media Islam dan Radikalisme

BOLEH JADI ini tindak lanjut dari hilangnya 16 orang warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan kelompok ISIS sewaktu lawatan ke Turki. Antisipasi yang dilakukan pihak Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencegah aksi serupa menjadikan sejumlah situs media Islam sebagai korban, karena media-media tersebut sudah dianggap sebagai penyebar ajaran radikal, kebencian, takfiriyah (pengkafiran) dan intoleran. Melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) sejumlah situs yang dianggap berbahaya pada keutuhan NKRI diblokir. Baca lebih lanjut

Dekat Allah


Pagi itu seorang guru madrasah menjelaskan keberadaan Allah kepada murid-muridnya. Ia mengatakan Allah itu ada di mana-mana, ke mana pun pergi Allah ada di situ, apa pun yang dilakukan Allah selalu mengawasi. Dengan arti bahwa Allah dekat sekali dengan manusia. Dia tak berjarak dan lebih dekat dari urat leher.

Lalu seorang siswa bertanya, ”Tapi kenapa manusia lebih banyak yang mengerjakan kejahatan daripada kebaikan jika Allah memang dekat dengan kita Ustad?” Baca lebih lanjut

Andai Kamu Sampah


Jika kamu sampah, maka jadilah sampah yang bisa dipungut pemulung

Sampah adalah barang kotor, bekas, tidak guna, produk sisa, buangan,  dan jika dilihat dengan biasa saja, maka ia tak dapat dipakai dan tidak ada nilai. Siapapun akan menghasilkan sampah dalam kehidupan hariannya. namun, di antara sampah-sampah yang dihasilkan setiap hari, pasti masih ada yang bernilai, masih bisa digunakan, dimanfaatkan atau sekedar di daur ulang untuk memproduksi barang yang lain.

Sisi lain yang perlu dilihat dan dipahami adalah “sampah masyarakat”. Ya, jika dihadapkan dengan sampah masyarakat, itu berarti tidak berguna bagi masyarakat sekitarnya, malah membuat kotor, aromanya menggangu lingkungan dan tidak lebih berguna dari sampah yang berserakan. Keberadaannya malah meresahkan orang-orang di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Membunuh Kebebasan Mimbar Akademik


Lagi, kita harus dihadapai dengan kedangkalan berpikir. Minggu, 20 Oktober, Ulil Abshar Abdallah dicekal oleh kelompok muslim tertentu di Kampus UIN Suska Riau. Ulil diundang pihak Fakultas Ushuludin UIN Suska Riau dalam seminar internasional, untuk menyampaikan ceramah tentang “Demokrasi di Negara-negara Islam”. Ulil merupakan tokoh intlektual muslim liberal, atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kasus pencekalan ini mestinya tidak terjadi, apalagi di kalangan akademik, intelektual. Tekanan semacam ini jelas makin menodai dan melukai kebebasan mimbar, berpendapat dalam ranah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah institusi pendidikan tinggi. Atas dasar kebebsan berpendapat inilah lembaga akademik beda dengan lembaga lain. Maka pencekalan terhadap Ulil sangat disesalkan, dan sepantasnya dilawan.

Kampus adalah awal semua pemikiran. Ranah-ranah pengambangan intelektual dimulai dari sini. Jika kebebasan berpikir dan berpendapat di kampus sudah ditolak, apakah sudah kalah dengan warung kopi, pangkalan ojek atau mimbar-mimbar umum lainnya yang lebih bebas?

Jika demikian, berada diera apakah kita sekarang ini, apakah mau kembali ke era orde baru?  Mengekang kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang, jelas sudah melanggar hak asasi setiap manusia. Kalau lantaran tidak suka dengan orangnya atau pemikirannya, kenapa harus dicekal? Bukankah perang melalui pendapat dibolehkan, yang selama ini akrab dengan istilah perang pemikiran. Jika menganggap Ulil dan opini-opininya tentang Islam dan pemikir-pemikir Islam tidak benar, mengapa tidak dilawan dengan pemikiran juga? Allah saja menyuruh manusia berpikir lewat potongan-potongan ayatnya dalam Qur’an, misal “Apakah Kamu tidak berpikir?”Apakah Kamu tidak mempunyai akal?”

Bagaimana mau mempelajari Islam liberal untuk menolak dan mementahkan pendapat Ulil, jika tidak siap menerima dan mendengar dari orangnya langsung. Pemikiran yang benar akan berkembang jika memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat bagi kalangan intelektual atau ilmuan. Kalau hal ini terus terjadi, kita pantas mengucapkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, bahwa menganggap kebebasan itu mati.

Saat UN (tak) Siap Terjun


Ujian Nasional (UN) layaknya ajang bergengsi bagi pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penyelenggara. Ajang tahunan ini terus jadi bahan gunjingan bagi masyarakat. Melihat carut marutnya pelaksanaan makin membuktikan bahwa UN bukanlah sistem yang baik. Karena metode yang satu ini menuai protes di mana-mana. Metode yang dianggap mengukur dan menilai standar pendidikan di Indonesia secara keseluruhan, melihat kemampuan siswa secara nasional dengan kelulusan mereka mengikuti UN yang sesaat.

Persoalan ini baru pertama kalinya sepanjang sejarah pelaksanaan yang dulunya disebut EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) sampai yang namanya UN. Panitia pelaksanaan UN yang dibawahi Kemendikbud tampak belum siap terjun.

Dari kendala teknis, pendistribusian soal yang kacau, seperti soal yang harusnya untuk Provinsi Riau malah kesasar ke Sumatera Utara. Jumlah soal yang kurang, terpaksa panitia memfotokopi agar beberapa siswa tetap ikut ujian. Pengiriman yang terlambat. Begitu jugalah dengan sebelas provinsi yang sempat ditunda pelaksanaannya, lantaran tidak siapnya pencetakan naskah soal yang ditenderkan kepada percatakan PT. Ghalia Indonesia Printing. Baca lebih lanjut