Mengeja Islam dalam Karya Griven H Putera


EsaiJIKA BICARA Melayu tak pelak kita harus bicara soal Islam. Bukan kah Melayu adalah Islam, atau jiwa Melayu itu adalah Islam. Membincangkan karya sastra Melayu, sudah barang tentu perbincangan itu tak jauh dari nilai-nilai keislaman. Karena ruh Islam sudah bersatu tubuh dengannya. Namun karya sastra Melayu tak harus pula kita sebut ia sebagai sastra Islami, hal ini karena sastra melayu itu laksana jasad, ruhnya adalah Islam.

Sastra Melayu yang memiliki ruh Islam ia akan berlandaskan pada sosial budaya orang Melayu yang bermoral. Lewat karya sastra Melayu (baca: Islam) menurut Ala al Mozayyen yang disampaikannya pada Seminar Sastra Islam Internasional awal 2011 lalu, terdapat tujuh karakteristik dalam sastra Islam, yang terdiri dari konsistensi, pesan, universal, tegas dan jelas, sesuai dengan realita dan menyempurnakan perangai (akhlak) manusia. Sedangkan Goenawan Mohammad menyebutkan bahwa sastra Melayu menyampaikan sistem kepercayaan atau bahkan ajaran Islam, memuji dan mengangkat tokoh-tokoh muslim, mengkritik realitas yang tak sesuai dengan niai-nilai Islam, atau setidaknya sastra tak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (Goenawan Mohamad: 2010).

Setelah sekian lama penyebutan sastra Islam, maka muncul istilah “Sastra Profetik” yang digagas oleh Kuntowijoyo lewat tulisannya di Majalah Horison pada tahun 2005, berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika dan Struktur Sastra)”. Kuntowijoyo sendiri mendefenisikan ini sebagai karya sastra yang memiliki nilai-nilai kenabian, yang dalam hal ini juga mengemban misi kenabian.

Boleh jadi gagasan Kunto ini dengan sengaja telah bersinggungan dengan apa yang telah disampaikan Allah dalam QS Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kamu menyuruh mereka kepada yang ma’ruf. Dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.” Maka peran manusia selain sebagai hamba yang harus beriman, ia juga mengemban amanah suci yang harus menyampaikan apa yang benar, dan selalu mengajak kepada kebaikan, serta memberi peringatan dan nasihat agar orang-orang terhindar dari keburukan. Hal ini dapat disebut sebagai nilai ataupun ruh keislaman. Baca lebih lanjut

Iklan

Bukan Salah Kartini


RA Kartini merupakan perempuan keturunan ningrat, ia putri Bupati Jepara, RM Sosro Ningrat juga Istri keempat Bupati Rembang, RMAA Singgih Djojo Adiningrat yang berkuasa pada zaman penjajahan Belanda. Sesuai surat keputusan Presiden Soekarno nomor 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya, 21 April untuk diperangati sebagai Hari Kartini setiap tahun. Kartini dianggap sebagai pahlawan yang mengangkat harkat martabat para perempuan di tanah air. Kartini digadang-gadangkan sebagai tokoh feminisme Indonesia, emansipasi wanita dan kesetaraan gender.

Berkat pemikiran Kartini yang ia goreskan melalui surat-surat lalu ia kirim kepada sahabat penanya di Belanda, Estella H Zeehandelaar, Abendanon, van Kol, GK Anton, dan Ovink. Surat pertamanya dikirim 25 Mei 1899 untuk Zeehandelaar dan terakhir 7 September 1904 untuk Abendanon. Estella H Zeehandelaar perempuan aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij di Belanda yang mengenalkan Kartini pada berbagai ide modren terutama mengenai perjuangan perempuan dan sosialisme. Van Kol adalah orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar perempuan Indonesia.

Surat-surat yang ditulisnya berbahasa Belanda berisi hak dan kebebasan untuk kemerdekaan kaum perempuan. Penyetaraan pendidikan, poligami, pengungkungan kaum perempuan, kritik adat Jawa melihat rumitnya tradisi penghormatan bagi kalangan ningrat Jawa, yang ia rasa merendahkan martabat manusia. Baca lebih lanjut