Islam di Negeri Feodal


KITA SUDAH TAHU bahwa Islam merupakan agama tauhid. Tentunya makna tauhid bukanlah sekadar yakin dalam hati dan ikrar pada lisan, namun yang juga sangat penting adalah perilaku keseharian umat Islam harusnya mencerminkan orang yang bertauhid. Dengan demikian tauhid bukan hanya vertikal – transendental, tapi ia juga merupakan hubungan sosial kemasyarakatan.

Jika dilihat muslim di Indonesia, sangat banyak perilaku yang tidak mencerminkan seorang muslim yang bertauhid. Gerakan Islam di Indonesia contohnya, beberapa gerakan organisasi Islam terkesan lebih menonjolkan identitas organisasi daripada menonjolkan identitas Islam itu sendiri. Dimana penonjolan ini otomatis membangkitkan ashabiyah tersendiri bagi pengikut organisasi tersebut. Organisasi Islam juga cenderung berjalan sendiri-sendiri, dan banyak yang memilih memjukan organisasinya daripada ummat secara keseluruhan. Selain itu organisasi Islam terlalu larut dalam politik secara berlebihan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mengeja Islam dalam Karya Griven H Putera


EsaiJIKA BICARA Melayu tak pelak kita harus bicara soal Islam. Bukan kah Melayu adalah Islam, atau jiwa Melayu itu adalah Islam. Membincangkan karya sastra Melayu, sudah barang tentu perbincangan itu tak jauh dari nilai-nilai keislaman. Karena ruh Islam sudah bersatu tubuh dengannya. Namun karya sastra Melayu tak harus pula kita sebut ia sebagai sastra Islami, hal ini karena sastra melayu itu laksana jasad, ruhnya adalah Islam.

Sastra Melayu yang memiliki ruh Islam ia akan berlandaskan pada sosial budaya orang Melayu yang bermoral. Lewat karya sastra Melayu (baca: Islam) menurut Ala al Mozayyen yang disampaikannya pada Seminar Sastra Islam Internasional awal 2011 lalu, terdapat tujuh karakteristik dalam sastra Islam, yang terdiri dari konsistensi, pesan, universal, tegas dan jelas, sesuai dengan realita dan menyempurnakan perangai (akhlak) manusia. Sedangkan Goenawan Mohammad menyebutkan bahwa sastra Melayu menyampaikan sistem kepercayaan atau bahkan ajaran Islam, memuji dan mengangkat tokoh-tokoh muslim, mengkritik realitas yang tak sesuai dengan niai-nilai Islam, atau setidaknya sastra tak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (Goenawan Mohamad: 2010).

Setelah sekian lama penyebutan sastra Islam, maka muncul istilah “Sastra Profetik” yang digagas oleh Kuntowijoyo lewat tulisannya di Majalah Horison pada tahun 2005, berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika dan Struktur Sastra)”. Kuntowijoyo sendiri mendefenisikan ini sebagai karya sastra yang memiliki nilai-nilai kenabian, yang dalam hal ini juga mengemban misi kenabian.

Boleh jadi gagasan Kunto ini dengan sengaja telah bersinggungan dengan apa yang telah disampaikan Allah dalam QS Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kamu menyuruh mereka kepada yang ma’ruf. Dan mencegah mereka dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.” Maka peran manusia selain sebagai hamba yang harus beriman, ia juga mengemban amanah suci yang harus menyampaikan apa yang benar, dan selalu mengajak kepada kebaikan, serta memberi peringatan dan nasihat agar orang-orang terhindar dari keburukan. Hal ini dapat disebut sebagai nilai ataupun ruh keislaman. Baca lebih lanjut

Membunuh Kebebasan Mimbar Akademik


Lagi, kita harus dihadapai dengan kedangkalan berpikir. Minggu, 20 Oktober, Ulil Abshar Abdallah dicekal oleh kelompok muslim tertentu di Kampus UIN Suska Riau. Ulil diundang pihak Fakultas Ushuludin UIN Suska Riau dalam seminar internasional, untuk menyampaikan ceramah tentang “Demokrasi di Negara-negara Islam”. Ulil merupakan tokoh intlektual muslim liberal, atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kasus pencekalan ini mestinya tidak terjadi, apalagi di kalangan akademik, intelektual. Tekanan semacam ini jelas makin menodai dan melukai kebebasan mimbar, berpendapat dalam ranah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah institusi pendidikan tinggi. Atas dasar kebebsan berpendapat inilah lembaga akademik beda dengan lembaga lain. Maka pencekalan terhadap Ulil sangat disesalkan, dan sepantasnya dilawan.

Kampus adalah awal semua pemikiran. Ranah-ranah pengambangan intelektual dimulai dari sini. Jika kebebasan berpikir dan berpendapat di kampus sudah ditolak, apakah sudah kalah dengan warung kopi, pangkalan ojek atau mimbar-mimbar umum lainnya yang lebih bebas?

Jika demikian, berada diera apakah kita sekarang ini, apakah mau kembali ke era orde baru?  Mengekang kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang, jelas sudah melanggar hak asasi setiap manusia. Kalau lantaran tidak suka dengan orangnya atau pemikirannya, kenapa harus dicekal? Bukankah perang melalui pendapat dibolehkan, yang selama ini akrab dengan istilah perang pemikiran. Jika menganggap Ulil dan opini-opininya tentang Islam dan pemikir-pemikir Islam tidak benar, mengapa tidak dilawan dengan pemikiran juga? Allah saja menyuruh manusia berpikir lewat potongan-potongan ayatnya dalam Qur’an, misal “Apakah Kamu tidak berpikir?”Apakah Kamu tidak mempunyai akal?”

Bagaimana mau mempelajari Islam liberal untuk menolak dan mementahkan pendapat Ulil, jika tidak siap menerima dan mendengar dari orangnya langsung. Pemikiran yang benar akan berkembang jika memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat bagi kalangan intelektual atau ilmuan. Kalau hal ini terus terjadi, kita pantas mengucapkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, bahwa menganggap kebebasan itu mati.

Jumat Tertunduk


Tak ada yang istimewa bagiku Jumat ini, siap-siap mau Shalat Jumat itu hal biasa. Akantetapi telat masuk mesjid untuk Shalat Jumat hal yang merugikan sekali bagiku. Ibarat kuliah, banyak dosen yang bikin aturan kalau telat 15 menit saja, tak diabsen hadir lagi, walaupun ada juga yang tak bolehkan masuk. Allah tak sekejam dosen yang berani keluarkan mahasiswa jika telat masuk kelas. Tapi Malaikat tak akan catat muslim yang telat hadir untuk Shalat Jumat, pahalanya sih tetap dihitung.

Jumat ini aku memang telat masuk Mesjid. Kahtib pun sudah mulai sampaikan khutbah. Shalat Tahiyat. Dengarin Khatib. Isi khutbahnya bahas Budaya Islami. Entah kenapa yang dicacinya budaya nenek moyang, budaya Hindu, juga budaya kristen. Katanya, budaya Islami itu, budaya yang tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits. Begitu semangat sang khatib menyampaikannya. Baca lebih lanjut

Kamu Belajar atau Menuntut Ilmu?


Hari ini—Jumat, 15 Februari 2013—kuliah hari pertamaku dengan Bapak DR. Hamzah, M. Ag, setelah dua tahun lalu tak masuk kuliah. Semester ini semester sepuluh bagiku. Mata kuliahnya Isu-isu Pendidikan Islam, dua tahun lalu nama mata kuliah ini, Kapita Selekta Pendidikan. Saya sempat masuk dengan dosen yang berbeda, sebab tak masuk empat kali pertemuan, saya diusir dari ruangan kelas, dengan berat hati dan ringan langkah, saya keluar sambil menyalam dan cium tangan sang dosen.

Kembali lagi ke topik, kuliah hari ini. Bahasan pemakalah tentang isu globalisasi dan problematikanya dengan dunia pendidikan Islam. Diskusi tak menarik bagiku. Pemakalah tak memahami dan tak menguasai bahasan makalahnya. Selesai sesi presentasi makalah dan beberapa pertanyaan dijawab dengan begitu singkat sama pemakalah.

DR. Hamzah pun suruh pemakalah kembali duduk ke barisan mahasiswa. Meskipun mereka menawarkan pada audiens untuk bantu jawab pertanyaan yang dilontarkan pada mereka. “Udah tu, udah capek kalian,” seru DR. Hamzah. Pemakalah pun menutup sesinya. Baca lebih lanjut