Jadian dengan Pers Kampus


#MenjelangPerjodohan

Siapa yang tau, kenapa aku mencintai aroma lapuk dalam ruangan yang tiap hari koran-koran merayapi tempat rebahan sesiapa yang hendak membaringkan sekujur tubuhnya di sini. Bukan itu saja, meski tanpa jajanan pasar pun seakan tiap harinya aku kenyang dengan bincangan bertema gado-gado yang disuguhkan dengan seadanya.

Pun aku jarang disuguhi musik Iwan Fals di sini, tapi kadang pekikan yang sering kudengarkan menuntut kebodohanku harus segera diasingkan. Aku ingat, awal jatuh cinta padanya itu enam bulan sebelum gempa mengayun bumi Sumatera yang sebenarnya berkonsentrasi di Sumatera Barat. Baca lebih lanjut

Iklan

Memberi itu bagai Kran dan Bak


Perhatikan mana posisi yang kita lakoni sekarang ini sebagai kran atau bak? Kran fungsinya memberi (mengalirkan) air, sedangkan bak fungsinya menerima (menampung). Analogi antara kran dan bak bisa dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita lebih berfungsi sebagai pemberi atau penerima?

Kran, meskipun air tinggal setetes, tapi ia tetap berikan. Bagaimana pula dengan bak, yang senantiasa menerima. Ia mampu memberi jika air yang di dalam bak sudah melimpah yang akhirnya tumpah, itu pun seolah keadaan terpaksa lantaran tidak bisa menampung lagi. Baca lebih lanjut

Dekat Allah


Pagi itu seorang guru madrasah menjelaskan keberadaan Allah kepada murid-muridnya. Ia mengatakan Allah itu ada di mana-mana, ke mana pun pergi Allah ada di situ, apa pun yang dilakukan Allah selalu mengawasi. Dengan arti bahwa Allah dekat sekali dengan manusia. Dia tak berjarak dan lebih dekat dari urat leher.

Lalu seorang siswa bertanya, ”Tapi kenapa manusia lebih banyak yang mengerjakan kejahatan daripada kebaikan jika Allah memang dekat dengan kita Ustad?” Baca lebih lanjut

Benteng Huraba Saksi Sejarah Bangsa, Apa tak Dikelola?


Benhur

 

“Dari mana memasukkan mesiu meriam itu ya?” tanya Budi Amin Nasution pada kawannya sore itu sambil memperhatikan dua meriam yang dicat warna hitam .

“Mungkin masih ada alatnya tu,” jawab kawan.

Perbincangan Amin dan kawannya seputar letak peluru meriam itu tak juga dapat jawaban. Mereka hanya memperhatikan dengan detail, dan sesesekali seolah mencoba meriam peninggalan sejarah itu. Baca lebih lanjut

Beda Dokter dengan Guru


Dokter Guru

Pertengahan tahun lalu saat ujian akhir semester genap, matakuliah Isu Pendidikan Islam, ada soal ujian yang pertanyaannya terkait tantangan pendidikan Islam menghadapi globalisasi.

Pada soal tersebut tepatnya nomor terakhir, ditanyakan Apa beda dokter dengan guru?

Diakhir pertemuan matakuliah ini, dosen bersangkutan Dr Hamzah, sudah menjelaskan beda guru dengan dokter. Kalau dipikir segi profesi sangat jelas dimana letak perebedaannya. Anak kecil pun pasti tahu.

Mari lihat mana bedanya.

Baca lebih lanjut

Menguji Komitmen Kepenulisan


Gambar dari Facebook © Rahmi Carolina

Gambar dari Facebook © Rahmi Carolina

Biodata Buku

Judul               :  24 Jam  –Dont Cross–Deadline–

Penulis           : Zainul Ikhwan, dkk

Penerbit        : AKLaMASI Publisher, Pekanbaru

Terbit             : Pertama, September 2013

Tebal              : vi + 75 halaman

BUKU 24 JAM ibarat sepiring gado-gado. Ia dihidangkan dari kumpulan tulisan. Tak ada satu sayur pun yang dominan. Tiap tulisan punya khas sendiri. Mungkin ini yang membuat buku ini enak dibaca. Seperti makan gado-gado, ada bagian yang disuka ada pula yang tidak disukai. Maka dalam buku ini isinya macam-macam. Siap-siap jika saat membacanya tersedak gara-gara kurang minum, atau kepedasan, bisa jadi malah manis. Baca lebih lanjut

Topeng Monyet Jakarta


foto: berita jakarta.com

Razia topeng monyet di Jakarta foto: beritajakarta.com

Jakarta? Jangan kan penduduknya, ke sana saja saya belum pernah. Namun, yang satu ini sangat menarik, ketika Gubernur Jakarta, Joko Wi mengurus topeng monyet. Orang fenomenal sedunia akherat ini rupanya lebih berprikemonyetan dari pada berprikemanusiaan. Dia tampaknya lebih kasihan dengan monyet-monyet yang lebih kurus darinya itu, ketimbang anak-anak pawang topeng monyet itu. Sesaat, Joko Wi seolah jadi juragan monyet. Maaf ya Mas, bukan becanda.

ooO0Ooo

Saya coba lari ketema lain. Dari sekian banyak janji politik Jokohok saat kampanye, tak ada satupun disebutkan mereka menyelamatkan hewan, atau menertibkan topeng monyet. Kesan positifnya bagi saya, dengan penertiban topeng monyet ini, bahwa Pemerintah DKI juga perduli dengan hewan, utamanya monyet. Namun yang lebih terkesan lagi adalah, Joko Wi terus mendongkrak popularitasnya lewat  kebijakan “aneh” yang dibuatnya. Baca lebih lanjut

Sampah Masyarakat


Jika kamu sampah, maka jadilah sampah yang bisa dipungut pemulung

Sampah adalah barang kotor, bekas, tidak guna, produk sisa, buangan,  dan jika dilihat dengan biasa saja, maka ia tak dapat dipakai dan tidak ada nilai. Siapapun akan menghasilkan sampah dalam kehidupan hariannya. namun, di antara sampah-sampah yang dihasilkan setiap hari, pasti masih ada yang bernilai, masih bisa digunakan, dimanfaatkan atau sekedar di daur ulang untuk memproduksi barang yang lain.

Sisi lain yang perlu dilihat dan dipahami adalah “sampah masyarakat”. Ya, jika dihadapkan dengan sampah masyarakat, itu berarti tidak berguna bagi masyarakat sekitarnya, malah membuat kotor, aromanya menggangu lingkungan dan tidak lebih berguna dari sampah yang berserakan. Keberadaannya malah meresahkan orang-orang di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Bebas Berpikir di Kampus?


Lagi, kita harus dihadapai dengan kedangkalan berpikir. Minggu, 20 Oktober, Ulil Abshar Abdallah dicekal oleh kelompok muslim tertentu di Kampus UIN Suska Riau. Ulil diundang pihak Fakultas Ushuludin UIN Suska Riau dalam seminar internasional, untuk menyampaikan ceramah tentang “Demokrasi di Negara-negara Islam”. Ulil merupakan tokoh intlektual muslim liberal, atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kasus pencekalan ini mestinya tidak terjadi, apalagi di kalangan akademik, intelektual. Tekanan semacam ini jelas makin menodai dan melukai kebebasan mimbar, berpendapat dalam ranah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah institusi pendidikan tinggi. Atas dasar kebebsan berpendapat inilah lembaga akademik beda dengan lembaga lain. Maka pencekalan terhadap Ulil sangat disesalkan, dan sepantasnya dilawan.

Kampus adalah awal semua pemikiran. Ranah-ranah pengambangan intelektual dimulai dari sini. Jika kebebasan berpikir dan berpendapat di kampus sudah ditolak, apakah sudah kalah dengan warung kopi, pangkalan ojek atau mimbar-mimbar umum lainnya yang lebih bebas?

Jika demikian, berada diera apakah kita sekarang ini, apakah mau kembali ke era orde baru?  Mengekang kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang, jelas sudah melanggar hak asasi setiap manusia. Kalau lantaran tidak suka dengan orangnya atau pemikirannya, kenapa harus dicekal? Bukankah perang melalui pendapat dibolehkan, yang selama ini akrab dengan istilah perang pemikiran. Jika menganggap Ulil dan opini-opininya tentang Islam dan pemikir-pemikir Islam tidak benar, mengapa tidak dilawan dengan pemikiran juga? Allah saja menyuruh manusia berpikir lewat potongan-potongan ayatnya dalam Qur’an, misal “Apakah Kamu tidak berpikir?”Apakah Kamu tidak mempunyai akal?”

Bagaimana mau mempelajari Islam liberal untuk menolak dan mementahkan pendapat Ulil, jika tidak siap menerima dan mendengar dari orangnya langsung. Pemikiran yang benar akan berkembang jika memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat bagi kalangan intelektual atau ilmuan. Kalau hal ini terus terjadi, kita pantas mengucapkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, bahwa menganggap kebebasan itu mati.