Benteng Huraba Saksi Sejarah Bangsa, Apa tak Dikelola?


Benhur

 

“Dari mana memasukkan mesiu meriam itu ya?” tanya Budi Amin Nasution pada kawannya sore itu sambil memperhatikan dua meriam yang dicat warna hitam .

“Mungkin masih ada alatnya tu,” jawab kawan.

Perbincangan Amin dan kawannya seputar letak peluru meriam itu tak juga dapat jawaban. Mereka hanya memperhatikan dengan detail, dan sesesekali seolah mencoba meriam peninggalan sejarah itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Bedain Dokter dengan Guru


Dokter Guru

Pertengahan tahun lalu saat ujian akhir semester genap, matakuliah Isu Pendidikan Islam, ada soal ujian yang pertanyaannya terkait tantangan pendidikan Islam menghadapi globalisasi.

Pada soal tersebut tepatnya nomor terakhir, ditanyakan Apa beda dokter dengan guru?

Diakhir pertemuan matakuliah ini, dosen bersangkutan Dr Hamzah, sudah menjelaskan beda guru dengan dokter. Kalau dipikir segi profesi sangat jelas dimana letak perebedaannya. Anak kecil pun pasti tahu.

Mari lihat mana bedanya. Baca lebih lanjut

Menguji Komitmen Kepenulisan


Gambar dari Facebook © Rahmi Carolina

Gambar dari Facebook © Rahmi Carolina

Biodata Buku

Judul               :  24 Jam  –Dont Cross–Deadline–

Penulis           : Zainul Ikhwan, dkk

Penerbit        : AKLaMASI Publisher, Pekanbaru

Terbit             : Pertama, September 2013

Tebal              : vi + 75 halaman

BUKU 24 JAM ibarat sepiring gado-gado. Ia dihidangkan dari kumpulan tulisan. Tak ada satu sayur pun yang dominan. Tiap tulisan punya khas sendiri. Mungkin ini yang membuat buku ini enak dibaca. Seperti makan gado-gado, ada bagian yang disuka ada pula yang tidak disukai. Maka dalam buku ini isinya macam-macam. Siap-siap jika saat membacanya tersedak gara-gara kurang minum, atau kepedasan, bisa jadi malah manis. Baca lebih lanjut

Kenapa Lambat Wisuda? Alasan 2


(Finan–sial )

Baca Alasan 1

MASIH SUASANA LEBARAN, dua pekan sudah di kampung halaman, berbagi kebahagian dengan keluarga, umak, ayah, abang, kakak dan adik serta ponakan tercinta yang imut-imut, Rizal, Imal, Salsa dan Mahira. Kami –Adik, kakak ipar serta ponakan– sampai di Pekanbaru Senin pagi, 19 Agustus 2013. Hari itu rencananya saya ke kampus melihat kembali skripsi yang Saya letak di meja dosen pembimbing seminggu sebelum lebaran.

Setelah Shalat Zuhur, Saya ke kampus. Alhamdulillah skripsiku yang dalam map kuning telah kembali di tempat semula. Saya berharap itu sudah dikoreksi dan diberikan catatan terakhir dosen pembimbing satu. Syukur sekali skripsi telah di ACC oleh dosen. Sedikit bangga, tapi banyak khawatir. Bangga lantaran hanya sekali diserahkan pada pembimbing, dan lansung ACC dengan berbagai koreksian dan catatan. Namun saya khawatir, tidak bisa maksimal dalam sidang nanti. Tapi yang lebih khawatir lagi, saya yang menargetkan wisuda diakhir September 2013 tak tercapai, sebab biaya untuk ikut sidang dan sebagainya belum ada. Boleh saja skripsi diACC, tapi jika tak ada duit urusan bayar membayar, apa yang hendak dibuat? Baca lebih lanjut

Topeng Monyet Jakarta


foto: berita jakarta.com

Razia topeng monyet di Jakarta foto: beritajakarta.com

Jakarta? Jangan kan penduduknya, ke sana saja saya belum pernah. Namun, yang satu ini sangat menarik, ketika Gubernur Jakarta, Joko Wi mengurus topeng monyet. Orang fenomenal sedunia akherat ini rupanya lebih berprikemonyetan dari pada berprikemanusiaan. Dia tampaknya lebih kasihan dengan monyet-monyet yang lebih kurus darinya itu, ketimbang anak-anak pawang topeng monyet itu. Sesaat, Joko Wi seolah jadi juragan monyet. Maaf ya Mas, bukan becanda.

ooO0Ooo

Saya coba lari ketema lain. Dari sekian banyak janji politik Jokohok saat kampanye, tak ada satupun disebutkan mereka menyelamatkan hewan, atau menertibkan topeng monyet. Kesan positifnya bagi saya, dengan penertiban topeng monyet ini, bahwa Pemerintah DKI juga perduli dengan hewan, utamanya monyet. Namun yang lebih terkesan lagi adalah, Joko Wi terus mendongkrak popularitasnya lewat  kebijakan “aneh” yang dibuatnya. Baca lebih lanjut

Kenapa Lambat Wisuda? Alasan 1


(Keteledoran yang tak Termaafkan)

SAYA LUPA, saat itu hari apa. Yang jelas, mata kuliah pagi itu adalah Kapita Selekta Pendidikan dengan dosen pengampu, Dr. Saifuddin, M. Ag. Ia bukan dosen tetap di Fakultas Agama Islam, hanya dosen terbang, dari UIN Suska Riau. Namun sudah beberap tahun mengampu mata kuliah ini untuk Program Studi Pendidikan Islam di FAI UIR. Sebelumnya saya dapat cerita, ia termasuk dosen yang aktif, disiplin dan tidak punya toleransi buat mahasiswa.

Dengannya, semua ditentukan diawal pertemuan, menentukan kontrak belajar, pengumpulan makalah yang pada pertemuan berikutnya  harus sudah dijilid semuanya. Tak hadir tiga kali awal-awal pertemuan, tidak bisa ikut mata kuliah dengannya, dan harus rela mengulang semester atau tahun berikutnya. Baca lebih lanjut

Andai Kamu Sampah


Jika kamu sampah, maka jadilah sampah yang bisa dipungut pemulung

Sampah adalah barang kotor, bekas, tidak guna, produk sisa, buangan,  dan jika dilihat dengan biasa saja, maka ia tak dapat dipakai dan tidak ada nilai. Siapapun akan menghasilkan sampah dalam kehidupan hariannya. namun, di antara sampah-sampah yang dihasilkan setiap hari, pasti masih ada yang bernilai, masih bisa digunakan, dimanfaatkan atau sekedar di daur ulang untuk memproduksi barang yang lain.

Sisi lain yang perlu dilihat dan dipahami adalah “sampah masyarakat”. Ya, jika dihadapkan dengan sampah masyarakat, itu berarti tidak berguna bagi masyarakat sekitarnya, malah membuat kotor, aromanya menggangu lingkungan dan tidak lebih berguna dari sampah yang berserakan. Keberadaannya malah meresahkan orang-orang di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Membunuh Kebebasan Mimbar Akademik


Lagi, kita harus dihadapai dengan kedangkalan berpikir. Minggu, 20 Oktober, Ulil Abshar Abdallah dicekal oleh kelompok muslim tertentu di Kampus UIN Suska Riau. Ulil diundang pihak Fakultas Ushuludin UIN Suska Riau dalam seminar internasional, untuk menyampaikan ceramah tentang “Demokrasi di Negara-negara Islam”. Ulil merupakan tokoh intlektual muslim liberal, atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kasus pencekalan ini mestinya tidak terjadi, apalagi di kalangan akademik, intelektual. Tekanan semacam ini jelas makin menodai dan melukai kebebasan mimbar, berpendapat dalam ranah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah institusi pendidikan tinggi. Atas dasar kebebsan berpendapat inilah lembaga akademik beda dengan lembaga lain. Maka pencekalan terhadap Ulil sangat disesalkan, dan sepantasnya dilawan.

Kampus adalah awal semua pemikiran. Ranah-ranah pengambangan intelektual dimulai dari sini. Jika kebebasan berpikir dan berpendapat di kampus sudah ditolak, apakah sudah kalah dengan warung kopi, pangkalan ojek atau mimbar-mimbar umum lainnya yang lebih bebas?

Jika demikian, berada diera apakah kita sekarang ini, apakah mau kembali ke era orde baru?  Mengekang kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang, jelas sudah melanggar hak asasi setiap manusia. Kalau lantaran tidak suka dengan orangnya atau pemikirannya, kenapa harus dicekal? Bukankah perang melalui pendapat dibolehkan, yang selama ini akrab dengan istilah perang pemikiran. Jika menganggap Ulil dan opini-opininya tentang Islam dan pemikir-pemikir Islam tidak benar, mengapa tidak dilawan dengan pemikiran juga? Allah saja menyuruh manusia berpikir lewat potongan-potongan ayatnya dalam Qur’an, misal “Apakah Kamu tidak berpikir?”Apakah Kamu tidak mempunyai akal?”

Bagaimana mau mempelajari Islam liberal untuk menolak dan mementahkan pendapat Ulil, jika tidak siap menerima dan mendengar dari orangnya langsung. Pemikiran yang benar akan berkembang jika memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat bagi kalangan intelektual atau ilmuan. Kalau hal ini terus terjadi, kita pantas mengucapkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, bahwa menganggap kebebasan itu mati.

Tak Sesulit yang Anda Bayangkan


BukuNASUTJudul : 10 HARI AJA!!! Langsung Sakti Berbahasa Inggris

Penulis : Panca Prastowo

Penerbit : DIVA Press, Jogjakarta

Cetakan : IV, Maret 2013

Tebal : 246 Halaman

Ada saja orang yang menganggap berbahasa Inggris itu sulit dan rumit. Bagaimana tidak, bahasa Inggris ada yang bilang bahasa “munafik” atau bahasa yang tak konsisten. Lain tulisannya lain pula bacanya contoh, one dibaca wan yang artinya satu. Belum lagi aturan tata bahasanya yang bikin kepala sampai pusing.

Tapi perlu diketahui, jika persepsi seseorang mengatakan sesuatu itu susah, sulit dan rumit, itulah yang membuat dirinya takut dan tak berani terjun ke dalamnya, termasuk mempelajari dan mendalami bahasa Inggris sampai paham dan bisa. English is easy, not difficult (Bahasa Inggris itu mudah, tidak sulit). Sebab bahasa Inggris itu juga sama seperti bahasa Indonesia. Maka yang pertama dan hal  terpenting  adalah tanamkan dalam jiwa masing-masing bahwa bahasa Inggris mudah, tidak sulit.

Bisa tidaknya seseorang berbahasa Inggris, jelas itu ditentukan dari usaha yang ia lakukan. Apalagi bahasa Inggris itu bukan bahasa ibu atau bahasa resmi di negara ini. Sekalipun seseorang sudah kuliah di jurusan bahasa Inggris, tapi kalau usaha yang ia lakukan nol, ya hasilnya juga nol. Lantas bagaimanakah biar berhasil dan bisa berbahasa Inggris?

Setidaknya di awal buku ini pembaca disuguhkan beberapa tips biar mudah dan berhasil belajar dan bisa berbahasa Inggris. Pertama, belajar bahasa Inggris dengan membuat catatan harian. Jika anda suka menulis di buku diari, sesekali buatlah tulisan atau curhatan di dalamnya dengan bahasa Inggris. Jika pun tak biasa dengan catatan harian, untuk membudayakan menulis, jelas ini lebih bagus dimulai, menulis keseharian Anda. Kedua, berdoa dalam bahasa Inggris. Kalau tak bisa berdoa dengan bahasa Arab, kenapa tidak dengan bahasa Inggris. Kan Allah juga yang menciptakan bahasa Inggris itu, pastilah Dia mengerti. Hitung-hitung melatih diri ngomong dengan bahasa Inggris.

Ketiga, menyimak. Siapapun mungkin pasti pernah menonton film berbahasa Inggris, jadi kalau mau nonton film luar yang berbahasa Inggris misalnya, pilih yang ada subtitle Indonesianya biar memudahkan menyimak dan mempelajari bahasa Inggrisnya. Catat kosa kata yang ada dalam dialognya, sekalian lihat bagaimana mereka mengucapkannya. Ini tentu mempermudah belajar biacara dan menambah kosa kata.

Kemudian tips lainnya adalah latihan, latihan dan latihan. Kenapa sampai diulang tiga kali? Sebab jika tak ada latihan sama saja masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Berapapun tips yang diberikan biar pandai berbahasa Inggris, tak bakalan bisa-bisa kalau tak ada latihannya. Bukankah banyak orang yang bilang, “Tak butuh banyak teori tapi peraktek yang peling penting!” Itu dia, kalau tak ada perakteknya tak akan berhasil. Satu teori harus diimbangi dengan beberapa peraktek.

Mulailah latihan yang sederhana, berbicara dengan bahasa Inggris pada kawan-kawan, walaupun bahasa masih campur Inggris Indonesia. Atau menulis dengan bahasa Inggris. Sering mendengarkan siaran atau menonton film berbahasa Inggris. Baca jugalah buku-buku yang berbahasa Inggris. Dan kalau sudah menantang, silahkan cari bule dan ajak mereka bincang-bincang.

Selain tips di atas, buku ini mengajarkan dalam sepuluh hari itu bisa berbahasa Inggris sesuai dengan judulnya. Dalam sepuluh hari itu, dibagi sepuluh poin penting yang ada dalam bahasa Inggris seperti grammar (tata bahasa dasar), verbs (kata kerja), sentence elements (elemen kalimat), types of sentences (tipe kalimat), adverb (kata keterangan), adjective (kata sifat), tenses (waktu dalam kalimat), kalimat tanya, dan preposition (kelompok kata).

Penjelasan dalam buku  ini sangat mudah dipahami pembaca dan mudah dicoba atau dipraktekkan, karena  setiap selesai pembahasan ianya sudah dilengkapi contoh juga latihan. Buku ini cocok dan sangat praktis buat Anda yang baru belajar bahasa Inggris, atau Anda yang sudah lama-lama pergi pulang tempat lest atau kursus bahasa Inggris tapi belum berhasil juga. Selamat membaca dan mencoba, semoga berhasil.***

Terbit di Rubrik Buku Riau Pos, Ahad, 25 Agustus 2013