Agar Diri tidak Korupsi


Korupsi sepertinya sudah jadi penyakit kronis. Ia tak pandang latar belakang dan jabatan apapun. Siapa saja bisa mengidapnya. Orang yang berpendidikan tinggi, yang hingga sudah mendapatkan gelar doktor atau bahkan profesor pun bisa terjangkiti penyakit ini. Bahkan sekalipun yang paham tentang ilmu agama, ia tetap bisa kena dengannya.

Sejatinya penyakit korupsi ada dalam diri. Boleh jadi awalnya ia hanya ada pada orang-orang sekitar, namun karena keserakahan diri, ia hinggap di hati. Keserakahan dalam diri yang membuat hati menjadi tidak pernah merasa cukup apa yang didapatkan. Sebesar apapun gajinya di kantor, dan seberapa besar pun tunjangan yang ia peroleh tiap bulan, itu tidak akan pernah cukup. Karena dirinya selalu merasa kurang.

Bahkan rasa cukup terhadap apa yang ia dapatkan tidak pernah ada, dan juga bahkan ia tidak pernah mensyukurinya. Padahal mungkin dia sudah sering mendengar bahwa dengan  selalu bersyukur lah apapun yang diperoleh jadi cukup dan berkah.

Dalam sebuah ungkapan Melayu disebutkan:

“Apabila hidup berpada-pada,

Selalu mensyukuri apa yang ada,

 Kemewahan dunia takkan dipandangnya,

Di situlah tegak tuah dan marwahnya”. 

Maka marwah seseorang akan kelihatan apakah ia rakus akan kemewan dan harta. Pada umumnya, jika dilihat orang yang menerima suap atau orang yang melakukan korupsi itu, mereka adalah orang yang mendambakan kelimpahan harta. Dengan gaji yang sekian banyak, tetap saja merasa tidak cukup untuk menghidupi mereka, lalu merekapun menginginkan lebih dan bahkan lebih darinya.

Hidup sederhana, itu tak mengenal hatinya. Ia pun lalu tamak dan serakah, mabuk pangkat dan ingin hidup mewah. Hendaknya jabatan bukanlah sebatas sumpah, tapi ia harus jadi amanah, agar para pejabat tidak lengah dan terpedaya akan godaan nafsu dunia.

Korupsi yang memperkaya diri merupakan perbuatan hina, dan merendahkan harga diri. Jika rasa syukur selalu ada dalam hati, maka budaya korupsi tidak akan menjadi-jadi.

Maka mencegah korupsi sejatinya harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus bertekad bahwa kita tidak akan pernah mengambil hak orang lain, karena korupsi sama halnya dengan mencuri hak orang lain. Namun demikin berikut hal sederhana yang harus kita lalukan untuk mencegah korupsi sejak dini dan sejak dari diri:
1. Jangan Coba Menyuap

Hal ini masih sering terjadi, jika seorang siswa melakukan kesalahan atau terlambat masuk sekolah misalnya, lalu ada sanksi kepadanya ia boleh membayar sekian ribu rupiah agar terbebas dari hukuman. Atau mungkin di kalangan mahasiswa, masih sering terjadi pada sebahagian mahasiswa, demi mendapatkan nilai bagus lalu mencoba merayu dosen dengan melakukan segala cara, termasuk memberinya sejumlah uang atau buah tangan. Atau mungkin ada juga mahasiswa memberikan persenan kepada pegawai yang membantu memuluskan dan mencairkan beasiswa.

Bukankah ini hal yang sangat memalukan sebenarnya, bahwa dunia pendidikan saja sudah seperti ini. Maka seharusnya generasi muda  dan dunia pendidikan harus bersih dari hal demikian. Maka tidak hanya di sekolah, di dalam hal apapun jangan coba sekali-kali karena hanya untuk memuluskan hasrat kita, dan hanya mencari kemudahan dan jalan pintas yang sebenarnya, lalu kita melakukannya, maka itu sebenarnya mengajarkan untuk korupsi kecil-kecilan, yang mana nanti ia jadi kebiasaan diri.

2. Jujur
Berlaku jujurlah pada diri sendiri, bahwa segala hal yang kita lakukan tidak boleh mendustakan akal dan hati kita. Jika mendustai diri kita sendiri saja kita tidak mau, maka kejujuran pun akan selalu bisa kita lakukan pada orang lain. Karena awal dari korupsi itu adalah ketidakjujuran pada diri kita, kita tidak jujur pada diri kita bahwa yang kita lakukan itu salah. Maka orang yang melakukan korupsi itu adalah orang yang membohongi dirinya sendiri.

Sudah kita ketahui bahwa mencotek dapat juga dikatakan korupsi, kenapa? Karena mencontek merupakan manifestasi ketidakjujuran seseorang dan pelanggaran amanah. Maka siswa maupun mahasiswa jangan sesekali mencontek, jika ini terjadi, hal inilah yang membangun karakter diri sampai dewasa hingga masuk dunia kerja di instansi yang mana nantinya membuat diri kita tidak jujur dalam suatu amanah. Lagian kita adalah generasi bangsa yang harusnya lebih bersih dan tidak ternoda. Karena kitalah yang akan menjaga negeri ini dari kekotoran para koruptor, jika kita sama saja dengan para koruptor, lalu siapa lagi yang diharapkan.

Tunjuk Ajar Melayu mengatakan:

“Santun berkata, tiada berdusta

Santuh berkata, jujur budinya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s