Strategi Pesantren Menghadapi MEA 2015


PESANTREN sudah ada di Indonesia dari abad ke-14 Masehi. Pesantren bertransformasi menjadi lembaga pendidikan nonformal yang mengembangkan ilmu Islam. Ini sesuai dengan Pasal 26 UU Nomor 20 Tahun 2003. Selain itu pesantren juga merupakan lembaga yang berperan aktif memberdayakan masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia, yang juga turut serta memperjuangkan kemerdekaan republik ini. Namun yang sangat disayangkan di era globalisasi yang penuh dengan kapitalisasi dan liberaliasi ini, seakan mengubah wajah pesantren jadi kelihatan sangar. Sedikit banyaknya ia dituduh juga sebagai lembaga yang memproduksi orang-orang radikal dan teroris, padahal tidaklah demikian adanya.

Sebenarnya para santri yang menimba ilmu di pesantren bukan didoktrin dengan hal yang demikian. Mereka mengkaji ilmu Qur’an, Hadits, Tauhid, Fiqh, Mantiq (filsafat) dan Lughah (bahasa) adalah untuk mengembangkan ilmu Islam yang benar agar terhindar dari fanatisme buta. Perlu diketahui bahwa hampir di setiap pesantren juga diajarkan ilmu sains, sosial juga ekonomi dan tidak terlepas apakah ia pesantren salaf atau modern.

Meskipun demikian ada hal yang lebih penting lagi, yang harus dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini termasuk pesantren mempersiapkan diri. Mampu atau tak mampu menghadapinya tetap akan tiba masanya, itulah sebabnya harus dipersiapkan, yaitu ASEAN Economic Comunity (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Beberapa pesantren di pulau Jawa sudah membahas hal ini dalam berbagai forum diskusi, bagaimana pesantren menghadapi pasar bebas saat diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena itulah ini merupakan isu strategis yang harus dibahas dan dihadapi pesantren. Meskipun sebahagian orang menganggap bahwa pesantren tidak masuk hitungan ketika berbicara soal kekuatan ekonomi.

Ada kekhawatiran ketika pesantren tidak mempersiapkan diri menghadapi MEA, seperti kompetensi lulusan yang rendah dibanding dengan masyarakat dari negara anggota ASEAN lain, jika dilihat dari penguasaan ekonomi, teknologi dan bahasa. Nah, karena itu saat ini pesantren tidak cukup bicara soal halal haram dalam soal produk, tapi pesantren juga harus ikut sebagai produsen untuk berkompetisi dalam pasar bebas ini. Maka penting bagi pesantren mendirikan Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menghasilkan suatu produk. Setiap pesantren harus membicarakan atau membahas lebih lanjut, produk seperti apa yang akan mereka buat. Jika satu pesantren saja punya satu produk unggulan, berapa banyak produk yang dihasilkan, dan ia juga berkualitas dan dapat bersaing ketika beredar di pasaran. Dengan demikian UKM juga akan berkembang di berbagai kalangan.

Untuk membekali itu, pesantren harus mempersiapkannya dari segi entrepreneurship (kewirausahaan). Santri harus diberikan ilmu, dan dilatih tentang kewirausahaan. Dari ini lah mereka dapat mempersiapkan skill (keahlian), mereka nantinya akan menjadi orang yang berdaya saing ketika masih di dalam pesantren maupun setelah lulus. Bahasa dan teknologi juga merupakan hal penting dalam mendukung keahlian mereka, karena dengan bahasa dan teknologi daya jangkau seseorang tentunya semakin luas.

Selain hal di atas, untuk mendukung kemandirian pesantren, soal dana juga merupakan hal yang sangat penting ketika memutuskan untuk membuat suatu produk dalam pesantren. Dengan mendirikan Baitu al-Mal wa at-Tamwil (BMT) di setiap pesantren, atau boleh saja gabungan dari berbagai pesantren yang ada di kota atau kabupaten tersebut. Sebagai lembaga keuangan syariah yang berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi umat, boleh jadi BMT sebagai opsi yang cukup tepat untuk lebih mudah dalam mendanai produksi. Hal ini juga tentunya dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar ketika hendak mendanai UKM.

Pesantren Berbasis Keunggulan Lokal

Baru-baru ini Kementerian Agama menggagas pesantren maritim (bahari) di beberapa pesantren yang berada di kawasan pesisir. Tentunya gagasan ini sangat bagus ketika melihat Indonesia sebagai negara maritim, dan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama yang kuat. Partisipasi Kementerian Agama dalam hal ini memang sangat diperlukan, demi terciptannya sumber daya manusia yang berketuhanan, dan siap mengembangkan serta mengelola potensi laut dengan baik dan benar.

Bukan hanya maritim, karena negara ini juga merupakan wilayah agraris, maka keunggulan dalam segi pertanian dan perkebunan juga harus dilirik oleh setiap pesantren. Boleh jadi pengembangan agribisnis atau agroindustri menjadi sebuah solusi, dan tentunya harus secepat mungkin dikembangkan. Untuk mempelajari dan menguasai keahlian seperti ini tidaklah para santri harus lulus dan duduk di bangku kuliah dulu. Mereka bisa mengembangkan diri mereka jika terus dilatih berkat kemandirian pesantren itu sendiri. Dengan melihat keunggulan lokal dan potensi yang ada, pesantren dapat memandirikan dirinya juga para santrinya.

Meskipun pesantren bukan lah lembaga yang mencetak tenaga kerja, hal semacam ini harus terus didukung agar pesantren tidak lagi sekadar belajar ilmu syariat. Pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah harusnya juga ikut berpartisipasi mendukung agar terciptanya kurikulum yang terintegrasi antara ilmu filsafat, bahasa, sains, sosial, dan syariat di pesantren. Karena dengan demikian lah dunia pendidikan Indonesia akan semakin maju.

Kemudian tidak bisa dipungkiri juga, kalau misalnya pesantren belum mampu mempersiapkan para santri, maka santri pun harus betul-betul mempersiapkan dirinya agar memiliki skill yang cukup dalam menghadapi MEA pada Desember nanti. Ini mengantisipasi agar tidak menjadi asing di negeri sendiri. Kesiapan santri juga sangat lah dibutuhkan, meskipun di tengah banyaknya kekurangan sistem pendidikan di pesantren, akan tetapi harus terus membekali diri biar betul-betul siap menghadapi MEA akhir tahun ini.***

 

Terbit di laman media portal Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau www.riau.kemenag.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s