Media Islam dan Radikalisme


Opini Media Islam dan Radikalisme

BOLEH JADI ini tindak lanjut dari hilangnya 16 orang warga negara Indonesia yang diduga bergabung dengan kelompok ISIS sewaktu lawatan ke Turki. Antisipasi yang dilakukan pihak Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencegah aksi serupa menjadikan sejumlah situs media Islam sebagai korban, karena media-media tersebut sudah dianggap sebagai penyebar ajaran radikal, kebencian, takfiriyah (pengkafiran) dan intoleran. Melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemenkominfo) sejumlah situs yang dianggap berbahaya pada keutuhan NKRI diblokir.

Sebenarnya persoalan blokir-memblokir ini pada masa menteri sebelumnya pun sudah pernah terjadi. Hanya saja bukan situs media Islam yang jadi sasaran, ada situs pornografi, komunitas lesbyan, gay, biseksual dan transgender yang dianggap porno, juga situs sosial media berbasis video, Vimeo yang juga dianggap berisi konten pornografi turut diblokir.

Sejatinya konten-konten pada sebahagian situs media Islam yang sangat fundamentalis dan terkesan militan merupakan semangat pihak pengelola dalam menyebarkan dakwah. Dakwah lewat situs online jadi satu opsi bagaimana menyebarkan pemahaman dan pemikiran Islam kepada halayak. Dari ini masyarakat mendapatkan informasi tentang Islam walau isinya banyak menyebar gambaran semangat jihad umat Islam di Timur Tengah.

Ketika situs-situs media Islam sangat aktif dalam menyebarkan informasi situasi dan kondisi negara-negara umat Islam di Timur Tengah, yang seolah-olah umat Islam di sana sangat mengharapkan pertolongan dari umat Islam dari negara lain, hal ini yang tampak ditakutkan pihak BNPT menjadi ajang penyemangat bagi umat Islam di Indonesia untuk turut sebagai mujahid. Dari itu BNPT melakukan literasi media dengan meminta kepada Kemenkominfo untuk memblokir situs-situs media Islam, namun tindakan ini merupakan hal yang inkonstitusional, karena yang berhak menetapkan demikian hanyalah pengadilan.

Perlu juga dianalisa lagi, bahwa tidak semua media Islam yang diblokir mengajak jihad seumpama ke Suriah atau Iraq. Media-media tersebut juga tidak melulu menyebar ajaran radikalisme dan takfiriyah. Akan tetapi dari sekian banyak konten berita yang dipublikasi oleh sebagian situs media Islam yang diblokir tersebut, masih lebih banyak konten dakwah yang amar ma’ruf dan mengkaji soal keluarga Islam.

Ada kesan bahwa tindakan blokir yang dilakukan BNPT ini memunculkan strotype Islamophobia. Meskipun sebenarnya apa yang dilakukan demi keutuhan dan keamanan negara dan warganegara. Mestinya BNPT tidak perlu gegabah melakukan hal demikian, karena selain melanggar undang-undang ini juga tidak baik melihat Indonesia yang sangat plural. Karena yang tampak dari tindakan ini adalah adanya suatu kebencian dan ketidak sukaan pada agama tertentu yang dilakukan lembaga negara, yang akhirnya melanggar hak berkeyakinan bagi setiap warga negara.

Keselamatan negara, masyarakat dan agama belum tentu dicapai dengan tindakan pemblokiran situs-situs media Islam tersebut. Karena yang dibawa dan disebarkan mereka adalah pemikiran bukan tindakan. Mestinya itu juga harus diperangi lewat pemikiran, yang paling penting dilakukan adalah tindakan preventif oleh pemerintah dengan membentuk mindset masyarakat, agar tidak terkecoh dengan pemberitaan dan informasi terkait hal-hal yang mengajak dan menyerukan jihad. Namun sekarang ini yang dilakukan pemerintah hanya membungkam ketika ada keributan serupa memadamkan api saat kebakaran.

Jika yang dilakukan pemerintah masih seperti itu juga, tidak ada arti aksi pemblokiran situs-situs media Islam tersebut, karena hal ini bukan lah sebuah solusi, karena besok lusa situs-situs lain yang mungkin lebih radikal lagi akan banyak bermunculan.

Di lain hal, kecerdasan netizen Indonesia dalam menyerap dan menerima informasi di dunia maya sudah sangat bagus, masyarakat Indonesia tidak lagi “bodoh” ketika ada informasi dan berita yang provokatif. Mereka tidak mungkin langsung muncul semangat jihadnya ketika membaca berita-berita yang mengajak jihad. Rasa keprihatinan terhadap keadaan umat Islam di Timur Tengah lebih cepat muncul daripada niat berjihad, apalagi mereka hanya membaca beritanya sekilas saja.

Untuk membuktikan hal demikian, bolehlah ditinjau lagi sejumlah nama yang terkait dan tergabung dengan gerakan terorisme di Indonesia atau di negara lain, apakah mereka aktif menggunakan sosial media dalam memperkuat pemahaman mereka untuk melakukan aksi jihad. Jika memang media Islam yang sebahagian menebar kebencian dianggap efektif dalam mendoktrin hal demikian, mungkin sudah sejak lama Indonesia kacau akibat dari “adu-domba” yang dilakukan media tersebut.

Bukankah membunuh Tikus di lumbung padi tidak berarti harus membakar lumbung padinya, karena ia akan menghancurkan segalanya. Masih ada harapan pada media Islam. Ia bukan sekadar penebar kebencian, tapi sebahagiannya juga merupakan penebar semangat ke-Islaman. Karena dengan memblokir tidak akan berpengaruh pada apapun.

Pun begitu pulalah dengan media-media Islam, harusnya informasi dan berita yang disajikan harus lebih komprehensif. Media Islam tidak cukup menebar berita “perang”, tapi media Islam harusnya menebar kedamaian dan mencegah konflik agar keselamatan agama dan penganutnya tercipta yang lebih baik lagi. Langkah umat Islam juga sangat penting agar selalu memperkuat akidah agar tetap bersatu.***

Terbit di Rubrik Opini Koran Harian Riau Pos, Kamis, 2 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s