Bukan Sekadar Kekasih


#MenjelangPerjodohan

Siapa yang tau, kenapa aku mencintai aroma lapuk dalam ruangan yang tiap hari koran-koran merayapi tempat rebahan sesiapa yang hendak membaringkan sekujur tubuhnya di sini. Bukan itu saja, meski tanpa jajanan pasar pun seakan tiap harinya aku kenyang dengan bincangan bertema gado-gado yang disuguhkan dengan seadanya.

Pun aku jarang disuguhi musik Iwan Fals di sini, tapi kadang pekikan yang sering kudengarkan menuntut kebodohanku harus segera diasingkan. Aku ingat, awal jatuh cinta padanya itu enam bulan sebelum gempa mengayun bumi Sumatera yang sebenarnya berkonsentrasi di Sumatera Barat.

Siang itu seorang gadis kampus pakai jilbab sampai pusat dan rok warna coklat berjalan menyusuri koridor di depan kelasku. Sambil menggendong tumpukan koran lalu ia bagikan dengan cuma-cuma ke segenap orang yang menerimanya.

Aku mengejarnya dengan langkah kaki yang tidak terlalu cepat, tapi aku tidak berhasil, tumpukan koran yang hampir membuat lengannya pegal itu tak kudapatkan. Mungkin karena dibagi dengan cuma-cuma ia cepat habis. Tapi gadis itu merayuku, biar mengunjunginya esok pagi, mungkin ada rahasia umum yang harus ia bisikkan.

Pagi itu lepas sesi mata kuliah Bahasa Arab, aku mengujungi sebuah ruangan pada gedung berlantai dua, catnya seperti bulan yang redup. Ruangan itu punya empat jendela dengan kaca transparan, gordennya warna pucuk pisang membuat pandangan tidak tembus ke dalam.

Memasukinya harus lewat pintu koridornya yang menghadap ke barat, koridor remang-remang itu memisah tiga ruangan di gedung itu. Pada koridor itu banyak barang, mulai dari alat dapur sampai sepatu yang hampir hancur. Namun dengan pasti aku memasukinya, yah, karena ingin mengunjungi calon kekasihku.

Aku mengetuk pintu dan memberi salam, tapi bukan gadis itu yang menjawab salamku, “Mungkin ini kawannya, yang juga cinta dengan aroma tinta dan hawa perangkat komputer yang selalu menghangati raganya.” batinku membisik.

“Cari siapa?” tanyanya dengan ramah, dan lalu aku di suruh masuk. “Kak Irfa ada Bang?” rupanya gadis itu belum datang, mungkin saja dia lagi mewawancari orang untukpenerbitan bulan berikutnya. Tak ada kekecewaan di sanubariku meski bukan gadis itu yang menjamuku, tapi tetap saja aku ditawari meminang dengan mengisi selembar borang.

Dua pekan kemudian, sebelum perjodohan dan ikatan hubungan disahkan. Aku diminta menghadap orang yang mengurusinya, ia juga seorang gadis berjilbab panjang sampai pusat. Aku menemuinya di ruangan itu juga.

“Kamu hafal surat al-‘A’la?”
“Hafal Kak.”
“Silahkan baca.”

Itu salah satu uji kepatutan dan kelayakan buatku apakah pantas berjodoh dengannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s