Dekat Allah


Pagi itu seorang guru madrasah menjelaskan keberadaan Allah kepada murid-muridnya. Ia mengatakan Allah itu ada di mana-mana, ke mana pun pergi Allah ada di situ, apa pun yang dilakukan Allah selalu mengawasi. Dengan arti bahwa Allah dekat sekali dengan manusia. Dia tak berjarak dan lebih dekat dari urat leher.

Lalu seorang siswa bertanya, ”Tapi kenapa manusia lebih banyak yang mengerjakan kejahatan daripada kebaikan jika Allah memang dekat dengan kita Ustad?”

Pertanyaan tersebut mungkin sedikit membuat kita berpikir. Kalau memang iya, kenapa manusia banyak berbuat keburukan dan kemunafikan. Bukankah kedekatan itu akan membuat manusia untuk selalu tidak berkelakuan yang menyimpang dari hal sebenarnya.

Allah memang berfirman dalam QS. Qaaf: 16, “… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Tapi makna teks ayat ini bukan menjelaskan kedekatan Allah dengan manusia, tapi lebih daripada itu menyatakan bahwa Allah lebih dekat dengan hati manusia bila dibandingkan dekatnya urat leher ke hati. Maka Allah lebih mengetahui apa yang di dalam hati jauh sebelum semua tindakan itu terjadi.

Akan tetapi jika dilihat siapa yang lebih dekat dengan hati seseorang dalam berperilaku dan bertindak, boleh jadi setan yang lebih dekat dan menguasai hati manusia. Sehingga mulanya ingin melakukan perbuatan yang baik namun yang terjadi sebaliknya, karena hatinya sudah dikuasai setan.

Bisikan-bisikan setan yang selalu didengarkan hatinya bukti bahwa hati memang lebih dekat dengan setan daripada Allah, dengan begitu hati menjauh dari Allah sampai diri manusia tidak merasakan lagi kedekatan yang sebenarnya dengan Allah.

Kedekatan setan dengan manusia tidak terjadi begitu saja, akan tetapi pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan manusia lalai untuk mendekatkan diri pada Allah merupakan garis start dan satu kesempatan setan untuk lebih dekat dengan manusia.

Manusia harus tahu bahwa bukan hanya Allah yang selalu mengawasi, namun setan pun selalu mengawasi manusia untuk mendapatkan kesempatan berteman baik, sehingga jika manusia lalai dari pengawasan Allah setiap saat, maka inilah waktu di mana setan menambah keakraban dengan manusia.

Maka sebab itulah Allah melarang manusia untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa melalaikan diri manusia pada-Nya. Dengan selalu mengingat Allah, manusia akan tetap dekat dengan Allah, karena orang yang dekat dengan-Nya akan mendapat kenikmatan, ketenteraman dan rezki, seperti yang difirmankan dalam QS Alwaqi’ah: 88-89. Wallahu ‘a’lamu bishshawab***

*Tulisan ini telah diterbitakan di Kolom Risalah Harian Riau Pos Edisi Jumat 7 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s