Benteng Huraba Saksi Sejarah Bangsa, Apa tak Dikelola?


Benhur

 

“Dari mana memasukkan mesiu meriam itu ya?” tanya Budi Amin Nasution pada kawannya sore itu sambil memperhatikan dua meriam yang dicat warna hitam .

“Mungkin masih ada alatnya tu,” jawab kawan.

Perbincangan Amin dan kawannya seputar letak peluru meriam itu tak juga dapat jawaban. Mereka hanya memperhatikan dengan detail, dan sesesekali seolah mencoba meriam peninggalan sejarah itu.

Karyawan salah satu perusahaan rokok itu sengaja singgah di sini, persis di sisi kanan Jalan Raya Lintas Padang Sidempuan menuju Panyabungan, Sumatera Utara, atau sekitar 700 kilometer sama dengan 10-12 jam perjalanan dengan mobil dari Kota Medan ke Selatan Sumatera Utara.

Tempat ini satu bukti dari sekian jejak-jejak perjuangan merebut kembali kemerdekaan dari kaum penjajah Belanda setelah Indonesia diproklamasikan merdeka tahun 1945.

Ia ibarat kerucut yang diletakkan, mulutnya menghadap bawah, dan bagian atas kerucutnya dipotong sepertiga dari atas. Sekilas tampak juga ibarat bukit. Jika mau ke atas, harus menaiki sekitar 20 an anak tangga.

 

Tangga naik Benhur
Benteng 2Di atas bukit ini seolah melingkar berdiameter 10, dan dipagari besi bulat setinggi satu meter yang dicat warna hitam. Menaiki anak tangga, sampai di atas, di sisi kiri dan kanan terletak meriam yang pernah digunakan para pejuang di Sumatera Timur dan Tapanuli melawan Kolonial Belanda. Meriam ini di bawa dari Medan.

Meriam sebelah kanan namanya Meriam si Manis, sedangkan meriam sebelah kiri disebut Meriam Lucsim. Dua meriam ini dari kesatuan Mobile Brigade Besar I Sumatera Utara yang telah berjasa selama perang kemerdekaan I dan II dibawah pimpinnan (komando) Komisaris Kepolisan Tingkat II, M. Kadiran di front Sumatera Timur dan Tapanuli.

Di tengah bukit ini terdapat satu bangunan mirip kastel, tingginya kurang lebih enam meter dan dikelilingi rantai. Di sini hanya tercatat 16 orang yang telah gugur, yang tercatat ini hanya dari polisi dan angkatan, sedangkan dari rakyat biasa tidak disebutkan. Di sisi belakang bukit ini di luar pagar besi, dibuat tembok yang dihiasi relif perjuangan.

Dari sejarah yang tercatat, tempat ini merupakan titik akhir (garis lini) perjuangan mempertahankan kembali kemerdekaan Indonesia, karena saat itu, Ibu Kota Republik Indonesia dipindahkan ke Bukit Tinggi. Jika pertahanan di sini dapat dilumpuhkan Belanda, alhasil bangsa kolonial ini akan kembali menguasai republik ini.

Berdasarkan arsip yang tercatat di Belanda dan laporan ini pernah dimuat harian Kompas pada Selasa, 26 September 1989, saat itu tentara Belanda merasakan hal yang aneh di jalur lintas Tapanuli Selatan ini, yang mana mereka  merasa jalanan di Tapanuli Selatan laksana Lorong Maut.

Tempat ini dikasih nama Benteng Huraba, Huraba diambil dari nama desa letak benteng ini berada. Peletakan batu pertama benteng ini dilakukan Kepala Daerah Kepolisian Sumatera Utara, Brigadir Jendral Polisi JFR Montolalu pada 4 September 1980.

Benteng yang diresmikan 21 November 1981 oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jendral Polisi DR Awaloedin Djamin MPA  ini merupakan monumen peristiwa perjuangan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 5 Mei 1949 setelah Belanda kembali menyerang karena tidak menerima kemerdekaan Indonesia.

Tahun lalu, di depan benteng ini, dilaksanakan acara upacara napak tilas sejarah perjuangan dari Sabang Sampai Merauke yang diadakan Kepolisian Republik Indonesia. Selain itu, sekeliling tempat ini juga sering digunakan anak Pramuka sebagai tempat kegiatan kemah.

Namun, meski sering dikunjungi dan disinggahi masyarakat, benteng ini masih kurang dipelihara dan diperhatikan oleh pihak terkait, termasuk Brimob Polda Sumatera Utara juga Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Karena, menurut beberapa remaja Desa Pintu Padang yang sering ke sana, baru-baru ini tautan rantai yang mengelilingi benteng hilang, selain itu ada juga besi-besi yang dibagian meriam itu diambil orang yang tidak bertanggung jawab.

Juga ada roda yang sudah lepas, dan hanya tergelatak di situ saja. Tak di pasang kembali, dan tak pula diamankan agar tak diambil tangan-tangan jahil.

Bukan hanya itu, sampah bekas air mineral yang dibuang sembarangan orang yang datang ke sini terlihat berserakan. Boleh jadi hal ini terjadi, lantaran tak ada pihak yang mengelola dan menjaga secara serius situs bersejarah ini.

Terkadang, remaja —masih tergolong anak-anak—minta uang masuk pada orang yang datang ke sana. Si Amin dan kawannya tadi, tak memberikan duit pada remaja itu,  mereka hanya memberi beberapa batang rokok pada remaja itu.

 

Pejuang yang gugur Garis Benhur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sisis Kiri Meriam

 

 

Pengunjung Dari sisi kanan
Kondisi Meriam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s