Kenapa Lambat Wisuda? Alasan 2


(Finan–sial )

Baca Alasan 1

MASIH SUASANA LEBARAN, dua pekan sudah di kampung halaman, berbagi kebahagian dengan keluarga, umak, ayah, abang, kakak dan adik serta ponakan tercinta yang imut-imut, Rizal, Imal, Salsa dan Mahira. Kami –Adik, kakak ipar serta ponakan– sampai di Pekanbaru Senin pagi, 19 Agustus 2013. Hari itu rencananya saya ke kampus melihat kembali skripsi yang Saya letak di meja dosen pembimbing seminggu sebelum lebaran.

Setelah Shalat Zuhur, Saya ke kampus. Alhamdulillah skripsiku yang dalam map kuning telah kembali di tempat semula. Saya berharap itu sudah dikoreksi dan diberikan catatan terakhir dosen pembimbing satu. Syukur sekali skripsi telah di ACC oleh dosen. Sedikit bangga, tapi banyak khawatir. Bangga lantaran hanya sekali diserahkan pada pembimbing, dan lansung ACC dengan berbagai koreksian dan catatan. Namun saya khawatir, tidak bisa maksimal dalam sidang nanti. Tapi yang lebih khawatir lagi, saya yang menargetkan wisuda diakhir September 2013 tak tercapai, sebab biaya untuk ikut sidang dan sebagainya belum ada. Boleh saja skripsi diACC, tapi jika tak ada duit urusan bayar membayar, apa yang hendak dibuat?

Saya berpikir dari mana dapat pinjaman. Orangtua sudah jelas, dari sejak Saya di kampung saat lebaran, sudah bilang belum bisa bantu, tapi katanya coba membicarakan dengan Bang Hasan, abang nomor dua. Biasanya Saya lebih banyak dibantu oleh adik kembarannya, Husin, abang nomor tiga. Lantaran Husin sudah membantu mengirimkan biaya untuk seminar proposal, dan perjanjian mereka, Hasan yang akan bantu biaya untuk sidang skripsi. Ceritanya sikembar ini mau bagi dua bantuan.

Saat lebaran abang Hasan juga pulang kampung,  Saya pikir Ia mengeluarkan biaya banyak dari Bengkulu ke Huta Holbung, Tapanuli Selatan (kampung Kami). Sebab Ia membiayai istri dan anaknya juga adik Kami yang laki-laki saat mudik. Itulah sebabnya Saya segan untuk meminta langsung padanya saat di kampung, meskipun janjinya Ia yang akan bantu.

Hampir sepekan Saya memikirkan dan mencari siapa yang kira-kira bisa bantu biaya sekitar 2,5 juta itu. Saya sempat menelpon abang, alumnus Pers Mahasiswa AKLaMASI, yang sebelumnya Ia bilang mau bantu biaya tugas akhir, sayangnya Ia tak angkat.

Siang, 24 Agustus 2013 sebelum Shalat Jum’at, Saya telpon kawan satu angkatan di FAI UIR, niatnya mau minta bantu hutangkan duitnya. Ia pun bersedia hutangkan 700.000 rupiah.

Setelah pasti ada duit untuk bayar administrasi sidang. Siang itu juga Saya ke tata usaha fakultas, rencananya sekalian daftar sidang. Rupanya Saya kurang beruntung, pagi tadi jadwal terakhir daftar untuk ujian Senin, 27 Agustus. Dan daftar peserta sidang beserta pengujinya pun sudah dibagikan.

Belum putus asa, sorenya lepas Shalat Ashar Saya menghadap Ketua Program Studi PAI, Miftah Syarif, hendak menanyakan bagaimana caranya biar Saya tetap bisa ikut sidang skripsi untuk wisuda akhir September.
“Kok kamu baru datang sekarang Hamid? Jadwal sidang sudah keluar.”

“Alasannya klasik Pak. Kemarin belum ada duit untuk daftar.”

“Aduh, gimana ya… Tapi coba aja dulu masukkan syarat-syaratnya ya. Tergantung PD (Pembantu Dekan) I nanti.”

“Kalu cepat diprosesnya, mungkin sidang berikutnya baru bisa ikut, tapi untuk wisuda berikutnya juga.” Tambahnya.

“Jadi tak bisa ya pak?”

“Masukkan aja dulu syarat-syaratnya. Lebih cepat kamu masukkan, cepat pula sidangnya. Kalau mengejar wisuda periode September besok, kamu sudah terlambat. Soalnya semua syarat dari fakultas harus masuk tanggal 28 besok.”

Saya pun pamit dan keluar. Tergambar sudah tak ada harapan bisa ikut wisuda pada September.

Padiar madabo songoni Amang. Au pe biamattong nikku. Tak songoni ma napade. (Tak mengapalah Nak. Apa lagi yang bisa Ku bilang. Mungkin ini yang terbaik),” terdengar suara Ayah menanggapi aduanku dalam telpon sore itu.

Sedangkan uma (ibu) masih berharap bisa ikut wisuda, “Andigan dope wisuda bayai,  anggo najadi bulan sambilan on? Dokon  dabo, mangido tolong tu alai. Piga taon buse baya ho di si i baru salose? (Kapan lagi wisudanya tu, kalau nggak jadi bulan sembilan ini? Bilangin lah, minta tolong sama mereka. Berapa tahun lagi Kau di situ baru selesai?”

Apa lagi  usaha yang mau Ku buat, kalau waktunya memang sudah terlambat. Pun Saya sudah langsung ngomong sama pihak jurusan yang mengatur dan membuat jadwal sidang. Tetap saja tak bisa. Atau mungkin Saya yang kurang usaha?

Meski tak bisa lagi, pekan berikutnya  Saya berniat mau daftar sidang, bukan untuk wisuda September. Rencana mau copy file  skripsi biar diprint, nasib lain datang lagi, laptop pun sakit. Tak mau hidup meski sudah dipencet tombol powernya. Beberapa kali diulang, tak juga mau hidup. Saya tak tau, apa ajalnya sudah tiba atau sakitnya parah, yang memerlukan pembedahan.

Selang beberapa pekan, Ku antar ke service centre di Pekanbaru. “Ada kemungkinan kalau seperti ini, masalahnya di mainbordnya,” kata karyawan di sana.

“Perlu perbaikan berapa lama kalau itunya yang rusak?”

“Seminggu lah. Nanti kalau sudah tau apa rusaknya, kami hubungi lagi Bapak.”

Satu pekan sudah laptop di service centre, namun tak jua ada kabar. Saya coba langsung ke sana menanyakan. Katanya belum ditemukan, di mana rusaknya, lantaran perangkat-perangkat yang didiagnosa sangat kecil-kecil, dan mereka minta waktu seminggu lagi. Pekan berikutnya pun Saya kembali ke sana, karyawan yang memeriksanya lagi sakit. Pekan ketingga, Saya makin cemas, apa mereka memang tak bisa memperbaiki atau tidak. Sebelum ke sana, saya coba telpon. “Laptop atas nama siapa Pak?”

“Atas nama Abdul.”

“Nomor servicenya berapa?”

Aku pun kasih tau. Dan lama baru jumpa di mana laptop itu diletaknya.

“Atas nama Abdul sudah selesai Pak. Biayanya dua ratus ribu.”

Rabu, 16 Oktober itu laptop yang dibilangnya sudah selesai diperbaiki itu saya jemput, namun sampai di sana, laptop yang dimaksud bukan milikku, rupanya Abdul yang lain dengan merk laptop berbeda. Mereka pun minta waktu sepekan lagi untuk memperbaikinya. Alhasil, mereka tak kuasa. Perbaikan pun dicancel, tak ada hasil apapun yang di dapat. Bahkan kata mereka, solusinya diganti mainboardnya. “Biayanya 2,5-2,7 juta Pak.”

Iklan

2 thoughts on “Kenapa Lambat Wisuda? Alasan 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s