Kenapa Lambat Wisuda? Alasan 1


(Keteledoran yang tak Termaafkan)

SAYA LUPA, saat itu hari apa. Yang jelas, mata kuliah pagi itu adalah Kapita Selekta Pendidikan dengan dosen pengampu, Dr. Saifuddin, M. Ag. Ia bukan dosen tetap di Fakultas Agama Islam, hanya dosen terbang, dari UIN Suska Riau. Namun sudah beberap tahun mengampu mata kuliah ini untuk Program Studi Pendidikan Islam di FAI UIR. Sebelumnya saya dapat cerita, ia termasuk dosen yang aktif, disiplin dan tidak punya toleransi buat mahasiswa.

Dengannya, semua ditentukan diawal pertemuan, menentukan kontrak belajar, pengumpulan makalah yang pada pertemuan berikutnya  harus sudah dijilid semuanya. Tak hadir tiga kali awal-awal pertemuan, tidak bisa ikut mata kuliah dengannya, dan harus rela mengulang semester atau tahun berikutnya.

Dipekan ketiga lepas lebaran Idul Fitri itu, saya masuk untuk mengikuti mata kuliah dengannya. Rupanya, ini pertemuan keempat, dan saya baru pertama masuk. Sebelumnya sudah tau kalau hadir pertemuan keempat, tak bakalan diterimanya. Dengan santai saya mengisi daftar hadir. Saat itu, pemakalah kelompok dua mulai mempresentaikan materinya. Sampailah sesi diskusi.

Bukan sok Caper (Cari Perhatian), tapi memang ingin menanggapi. Di antara tiga yang hendak menyakan dan menaggapi isi materi mereka, saya salah satuya. Sebab ini dosen baru jumpa dengan kelas kami, yah harus memperkenalkan diri. Nama lengkap dan kelompok berapa dapat giliran makalah. Aduh, saya bingung waktu ditanyanya saya kelompok berapa. Saya mau jawab kelompok terakhir tapi tak tau kelompok terakhir itu kelompok berapa. Semuanya hening. Akhirnya saya dengan jujur dan polos, mengaku belum dapat kelompok.

Jadilah ia heran, kenapa saya tidak kebagian kelompok. Dan mulai curiga. “Kenapa kok belum dapat kelompok?”

“Saya pertama kali hadir pak.”

Tanpa basa-basi dan menayakan sebab musabab, ia langsung mengusirku dari ruangan di lantai dua itu. Dan ia tanyakan balik siapa namaku di daftar hadir, bermaksud mencoretnya. Saya sejenak terdiam dan belum mengambil tindakan dan yang lain pun masih terdiam dengan aksi ini. Dengan berat langkah dan hati yang tulus, dengan ketidak ridoannya saya di ruangan itu, harus rela meninggalkannya dengan berharap ini yang terbaik.

Saya pun beranjak dari kursi dan mengulurkan tangan, menyalam dan menciun tangannya dan sambil mengucapkan terima kasih dan salam. Tapi setelah keluar dari situ, saya berniat menjumpainya setelah jam mata kuliah selesai.

Yang ku tunggu tiba, ia tampak turun dari tangga. Saya ikutin dan temui dia di parkiran. Memohon dengan hati dan coba menjelaskan kenapa tidak bisa hadir. Tiga pertemuan awal yang tak bisa ku ikuti. Pertemuan awal itu masih bulan puasa Ramadhan. Waktu itu aku bertugas di mushalla sebagai gharim. Maklum lah, tugasnya sampai tengah malam ngurusin sampai nunggin yang tadarusan. Dan sahurnya harus lebih awal bangun untuk menghidupkan pemberitahuan waktu sahur, dan membersihkan dalam mushalla yang kotor lantaran dipakai shalat isya dan tarwih ramai-ramai. Otomatis lah saya kurang tidur, dan dengan beratnya, kantuk tak bisa ku tahan, akhirnya lepas shalat subuh tidur lagi, dan yang sangat disayangkan, jadwal kuliah pagi lewat tanpa sadar, tidur sampai jam mata kuliah pertama hampir selesai, sekitar jam sembilan lewat.

Namun dari penjelasan itu, harapanku tetap nihil. Tak ada yang berubah. Ia tetap berada pada posisi tidak. Walaupun saya bilang bahwa makalahku telah selesai dan akan membuat tugas-tugas untuk mengganti pertemuan yang tak kuhadiri atau menebus kesalahan sebelumnya. Katanya, saya sudah terlambat, dan semua makalah udah dijilid, tak mungkin diutak-atik lagi. Dan dia menyuruhku mengambilnya disemester depan biar lebih enak. Lagi, aku harus menyerah kedua kalinya setelah di ruangan tadi.

ooO0Ooo

SEMESTER BERIKUTNYA, mata kuliah ini kembali hadir dengan dosen pengampu yang sama, tapi lantaran ganti kurikulum, sebutan atau nama mata kuliah ini beda, jadi Isu-isu Penndidikan Islam. Dan saat ini saya sudah semester delapan. Sedangkan saya harus Peraktek Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah. Sementara kawan-kawan yang lain sudah fokus dengan PPL saja, dan saya harus bagi konsentrasi lantaran harus mengulang dua mata kuliah disemester ini. Syukurnya jadwal PPL yang kosong pas dengan jadwal mata kuliah ini. Di pertemuan pertama, dengan semangat saya ke kampus dan jumpa dengan wajah adik-adik tingkat. Rupanya, setelah beberapa lama ditunggu belum hadir juga dosen yang bersangkutan. Lalu saya coba hubungi dia. Katanya belum bisa masuk, dia sedang mengikuti seminar. Jadwal tatap muka pertama denganya di tahun 2012 itu gagal.

Pekan depannya, saya datang lagi ke kampus, dan juga tak masuk. Coba hubungi dia, rupanya lagi menguji mahasiswa pasca di UIN Suska. Dan pekan berikutnya, harusnya pertemuan ketiga jadi pertemuan pertama yang bisa ia hadiri. Dan dengan menyesal saya tak dapat hadir lantaran harus mengerjakan satu hal  di tempat PPL.

Dan pertemuan berikutnya hampir terulang, dan saya tak bisa masuk lagi. Untungnya saya tak masuk ruangan. Dan saya coba bertanya pada mahasiswa yang lain, apakah pembagian kelompok makalah sudah, dan makalahnya sudah dijilid. Ternyata iya, jelas saya tak bisa masuk, karena salah satu alasan tak bisa masuk lagi dengannya, kalau tidak kebagian kelompok makalah dan makalah sudah dijilid, dan jilidannya telah berada di tangannya. Alamtlah saya mengambil mata kuliah ini tahun 2013, saat aku sudah di semester sepuluh. Dan Alhamdulilah selesaijuga  ku ikuti dengan baik bersama dosen yang beda, yakni Dr. Hamzah, M. Ag.

ooO0Ooo

SATU LAGI. Disemester sepuluh saya harus mengulang satu mata kuliah, BMT (Baitu al-Mal wa at-Tamwil) bersama M. Ali Noer, M. Ag. Mata kuliah ini membahas tentang lembaga keuangan syari’ah mikro. Lembaga ini meanmpung jenis tabungan, infaq, sedekah dan wakaf, bergerak pada pengembangan usaha kecil dan menengah rakyat kecil serta membantu rakyat muslim yang kurang mampu.

Sebenarnya, kenapa saya mengulang mata kuliah ini, alasannya hampir sama dengan di atas, hanya beda kasus. Mata kuliah ini hadir di semester tujuh juga, yang awal perkuliahannya itu di bulan puasa. Dan kejadiannya mirip dengan yang di atas, namun untuk ini saya sering terlambat masuk kelas. Dan hafalan ayat-ayat dan hadis tentang zakat, riba dan lembaga keuangan syariah tak saya setor pada dosen yang bersangkutan.

Dengan perilaku saya yang begitu tidak baiknya, saya sempat diingatkan sama  kawan, agar tidak seperti itu terus, bisa jadi saya nantinya tidak dapat nilai yang baik. Saya mengiyakan saja. Namun tetap saja terulang hampir sampai akhir semester. Dan saat ujian tengah semester juga tidak saya ikuti, lantaran yang diujikan itu hafalan, bukan dengan tulisan melainkan lisan. Otak saya yang tidak begitu akrab dengan hafalan terasa berat untuk menghafal yang disuruh sama dosen. Lagian, kenapa kita harus menghafal, bukankah pada bangku kuliah yang diutamakan adalah pemikiran dan membentuk pola pikir mahasiswa yang baik dan benar, bukan menyuruh menghafal materi-materi kuliah?

Di lain waktu, saat ujian akhir semester, jadwal ujian masuk jam 10.00 pagi. Perkiraan, saya datang disaat yang tepat dengan waktu, dan ternyata sudah masuk lebih awal, 10.30. Terlambat lagi. Saya ucapkan salam masuk, namun dosen tak menjawab, melainkan mengucapkan itigfar

Habis liburan, biasanya nilai sudah keluar dan bisa dilihat di bagian tata usaha. Seorang kawan pergi melihat nilai ke sana, dan kabar yang tidak membahagiakan, di kasih tau bahwa mata kuliah BMT saya dapat nilai “D”. Saya tidak berniat memastikannya ke tata usaha, sebab akan membuat saya lebih malu dengan diri sendiri.

Berhubung kurikulum lagi perubahan, mata kuliah ini kembali hadir disemester delapan, juga dengan dosen pengampu yang sama, pas juga sebagai dosen pamong PPL. Jadwal saya mengajar PPL bentrokan dengan jadwal mata kuliah ini. Saya minta izin pada pihak sekolah dan guru mata pelajarannya di sekolah agar diberikan keringanan, karena saya harus mengulang satu mata kuliah. Saya pun dapat dispensasi.

Saat pertemuan pertama lagi tak bertemu dengan dosen, dengan alasan dosen masih sibuk. Kelas tak jadi masuk. Hendak pertemuan berikutnya, ternyata jadwal dipindah ke hari yang lain. Jadilah, waktu yang di tempat PPL bentrok lagi dengan yang dijadwal ulang. Kalau saya minta dispensasi lagi pada pihak sekolah, rasanya tak mungkin. Bisa-bisa saya dibilang main-main, akhirnya saya korbankan tidak mengikuti mata kuliah dan mengutamakan PPL. Mata kuliah ini pun hadir saat saya sudah semester sepuluh, bersamaan dengan Kapita Selekta Pendidikan.

Itulah satu alasan kenapa saya baru bisa menyelasaikan kuliah di tahun 2013 dan lambat wisuda. Semoga kisah singkat ini bermanfaat sebagai pelajaran biar tidak seperti saya, sampai-sampai diusir dari ruangan perkuliahan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan dosen yang bersangkutan. Ini hanya intropeksi diri dan memberi cerita yang jelas bagi orang-orang yang bertanya kanapa saya belum selesai kuliah serta lambat wisudanya. Mohon maaf jika, cerita tidak berkenan di hati. Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk menurut Anda. Saya juga mohon maaf buat Umak, Ayah dan keluarga tersayang dan tercinta.Wallahu ‘a’lamu bisshawab.

Baca Alasan 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s