Membunuh Kebebasan Mimbar Akademik


Lagi, kita harus dihadapai dengan kedangkalan berpikir. Minggu, 20 Oktober, Ulil Abshar Abdallah dicekal oleh kelompok muslim tertentu di Kampus UIN Suska Riau. Ulil diundang pihak Fakultas Ushuludin UIN Suska Riau dalam seminar internasional, untuk menyampaikan ceramah tentang “Demokrasi di Negara-negara Islam”. Ulil merupakan tokoh intlektual muslim liberal, atau Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kasus pencekalan ini mestinya tidak terjadi, apalagi di kalangan akademik, intelektual. Tekanan semacam ini jelas makin menodai dan melukai kebebasan mimbar, berpendapat dalam ranah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi sebuah institusi pendidikan tinggi. Atas dasar kebebsan berpendapat inilah lembaga akademik beda dengan lembaga lain. Maka pencekalan terhadap Ulil sangat disesalkan, dan sepantasnya dilawan.

Kampus adalah awal semua pemikiran. Ranah-ranah pengambangan intelektual dimulai dari sini. Jika kebebasan berpikir dan berpendapat di kampus sudah ditolak, apakah sudah kalah dengan warung kopi, pangkalan ojek atau mimbar-mimbar umum lainnya yang lebih bebas?

Jika demikian, berada diera apakah kita sekarang ini, apakah mau kembali ke era orde baru?  Mengekang kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang, jelas sudah melanggar hak asasi setiap manusia. Kalau lantaran tidak suka dengan orangnya atau pemikirannya, kenapa harus dicekal? Bukankah perang melalui pendapat dibolehkan, yang selama ini akrab dengan istilah perang pemikiran. Jika menganggap Ulil dan opini-opininya tentang Islam dan pemikir-pemikir Islam tidak benar, mengapa tidak dilawan dengan pemikiran juga? Allah saja menyuruh manusia berpikir lewat potongan-potongan ayatnya dalam Qur’an, misal “Apakah Kamu tidak berpikir?”Apakah Kamu tidak mempunyai akal?”

Bagaimana mau mempelajari Islam liberal untuk menolak dan mementahkan pendapat Ulil, jika tidak siap menerima dan mendengar dari orangnya langsung. Pemikiran yang benar akan berkembang jika memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat bagi kalangan intelektual atau ilmuan. Kalau hal ini terus terjadi, kita pantas mengucapkan Inna lillah wainna ilaihi raji’un, bahwa menganggap kebebasan itu mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s