Minta Maaf


USAI rapat kabinet, Presiden SBY beberapa waktu lalu minta maaf kepada negara tetangga, Malaysia dan Singapura soal asap yang tak disengaja dari Riau, Indonesia sampai ke wilayah negara tetangga itu.

Beberapa kalangan menganggap hal ini sangat tidak tepat sekali, karena minta maaf bukan urusan SBY, dan terlalu naif sekali seorang presiden minta maaf hanya gara-gara asap, toh yang membakar hutan dan lahan juga perusahaan-perusahaan dari negara jiran itu.

Ditambah lagi Menteri Luar Negeri, Marti Natalegawa yang merasa minta maaf itu tak perlu sebab bukan salah negara, ini faktor alam.

Pokoknya beragam bentuk komentar soal permintaan maaf Presiden SBY itu, apalagi bagi masyarakat Riau yang menjadi korban asap, meresa permintaan maaf itu tidak perlu.

Namun di sisi lain, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Bukankah salah, khilaf adalah fitrah yang melekat dalam diri manusia.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik pelaku kesalahan adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”.

Berarti manusia yang baik, bukan orang yang tidak pernah berbuat salah. Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Dengan artian juga, jika kesalahannya itu kepada manusia, minta maafnya juga kepada manusia.

Etika sosial dalam Islam mengharuskan seseorang meminta maaf jika dia khilaf dan melakukan kesalahan, baik terhadap sesama makhluk maupun Sang Khaliq.

Minta maaf yang dilakukan seseorang harusnya perbuatan tulus dan ikhlas dari hati, membuktikan kasih sayang dan cinta sesama.

Tak ada syarat minta maaf, karena bukan paksaan. Jangan juga minta maaf kepada orang tersebut sambil menyalahkannya. Jika seseorang minta maaf, tapi dia menyalahkan orang lain juga, berarti dia tak ada niat baik untuk minta maaf, karena ini jelas dia tak mengaku salah.

Orang yang minta maaf tak melihat apakah dia orang besar atau rakyat kecil. Jika memang dia salah, siapapun dia sudah seharusnya minta maaf, baik salahnya kecil maupun besar, sembari memperbaiki dirinya biar ke depannya tak melakukan hal yang sama.

Tak ada juga salahnya, jika seseorang minta maaf untuk orang lain. Misalnya seorang presiden minta maaf, karena ulah pengusaha perkebunan, walau pengusaha itu berasal dari negeri jiran juga.

Dunia  akan menilai, siapa yang salah sebenarnya. Pada hakikatnya, makna minta maaf adalah bahwa dalam diri seseorang ada hak orang lain, ibarat utang harus dilunasi. Seseorang melunasi orang lain tak ada salahnya bukan?

Ketahuilah bahwa Allah SWT sangat suka dengan orang yang suka minta maaf. Karena dengan minta maaf, berarti seseorang mengakui kesalahan yang diperbuatnya.

Sadar akan kesalahan terhadap orang, akan lebih baik dan membawa kabaikan bersama, juga memperbaiki silaturrahmi. Wallahu ’alam.***

Tulisan ini telah dimuat di Kolom Risalah Riau Pos edisi Jumat, 12 Juli 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s