Jumat Tertunduk


Tak ada yang istimewa bagiku Jumat ini, siap-siap mau Shalat Jumat itu hal biasa. Akantetapi telat masuk mesjid untuk Shalat Jumat hal yang merugikan sekali bagiku. Ibarat kuliah, banyak dosen yang bikin aturan kalau telat 15 menit saja, tak diabsen hadir lagi, walaupun ada juga yang tak bolehkan masuk. Allah tak sekejam dosen yang berani keluarkan mahasiswa jika telat masuk kelas. Tapi Malaikat tak akan catat muslim yang telat hadir untuk Shalat Jumat, pahalanya sih tetap dihitung.

Jumat ini aku memang telat masuk Mesjid. Kahtib pun sudah mulai sampaikan khutbah. Shalat Tahiyat. Dengarin Khatib. Isi khutbahnya bahas Budaya Islami. Entah kenapa yang dicacinya budaya nenek moyang, budaya Hindu, juga budaya kristen. Katanya, budaya Islami itu, budaya yang tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits. Begitu semangat sang khatib menyampaikannya.

Pandanganku mulai beralih dari sang Khatib. Kutoleh ke kiri. Seorang jamaah begitu tertunduk-tunduk, saya kira meng-iya-kan pernyataan Khatib, sayang, rupanya dia tertidur. Pandanganku kulanjutkan ke belakang. Wow…. begitu banyak jamaah yang tertunduk-tunduk (baca: tidur).

Aku malah berpikir, berapa persen yang simak omongan khatib. Berapa persen juga yang menyimak dengan baik. Belum lagi berapa orang yang akan mengaplikasikan omongan khatib dikehidupannya.

Setiap Jumat, muslim setia datang ke Mesjid. Duduk ada yang khusuk pun tertunduk-tunduk simak si kahtib. Yang dibicarakan sama khatib pun macam-macam. Tapi jarang terdengar masalah hubungan manusia muslim dengan muslim lainnya. Juga dengan manusia non muslim dimasa kini. Khatib lebih asyik membahasa soal manusia dengan Sang Pencipta.

Bahasannya pun sepanjang dan sepuas khatib. Padahal dalam Islam ada tuntunan berkhutbah. Sedianya tak lebih panjang khutbah daripada Shalat Jumatnya. Aku pikir ini sudah pas. Jangan sebab khatib semangat untuk menyampaikan khutbahnya, semaunya dan sepuasnya dia bicara dengan lantang di atas mimbar.

Perlu kajian waktu menyampaikan isi khutbah, karena ini untuk efektivitas waktu beribadah. Juga efektifitas dan semangat jamaah memdengarkan khutbah. Jika khutbah itu panjang dan bikin jamaah jenuh, dia pun mulai tundukkan kepalanya dan akhirnya tidur bahkan sampai ngorok. Jadilah khutbah yang disampaikan tak disimak sama jamaah. Apa lagi yang diperoleh jamaah dari ritual Jumatan? Hanya sekedar selesai fardhu ’ain. Tapi, pesan yang dikhutbahkan tak sampai pada telinga sebagian jamaah atau bahkan tak sampai ke hatinya.

Perlulah ini jadi perhatian para khatib Jumat. Biar menyampaikan isi khutbah yang lebih berkualitas dan menyentuh hati dan masalah sosial. Khutbah itu sedianya singkat tapi pesan itu sampai, dengan waktu yang sudah diatur sesuai haditsnya rasul, kira-kira waktunya 15 menit paling panjang. Wallahu’alamu bisshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s