Rindu Lesu di Dahan Rasau


Kenapa kita tak semesra dulu

Saat kau rangkul dengkul yang masih lugu

Waktu kau seperti burung yang  lesu di dahan rasau

Berkicau dalam salju

Kadang debu

Sekarang gigimu saja sudah dungu

Hatimu meraba jemu

Padaku

Rindumu tak bermutu

Lugumu merisau

Tak sampai jamku mengigau

Waktunya kutuai benih-benih galau

Yang sempat kau tanam dalam kalbu

Sebenarnya, apa yang kau maksud saat kita bergurau

Di sudut pilu

 

ini telah terbit di KOMPAS.com

Iklan

5 thoughts on “Rindu Lesu di Dahan Rasau

  1. Ibnu Thamrin Al-Asqalani A.G berkata:

    I Love This Poems, dari kedua sajak yang kau tautkan menunjukkan peningkatan. teruslah mendaki tangga tapi jangan sungkan mengingat kerendahan tanah.

  2. Iya, betul Bang. Kita Ada Sebab kita Berpikir. Masih sejalan dengan makna “Siapa yang tahu pada dirinya, maka tahulah dia pada Tuhannya”. Bagaimana kita tahu diri kita, kalau kita nggak berpikir. Hahaha. 😀
    Okeh Bang, sebab karya membuat kita tetap ada.

      • Hehehehe tapi bener kan? kita sebagai manusia harus begitu, berpikir dan berkarya karena kita ada karena berpikir, cogito ergo sum… (bener gak ya) 🙂
        Tetap berpikir dan berkarya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s