Kopi Air Mata


Pagi ini kuseduh kopi dengan air mata. Pilunya hati sesakkan mata.  Apa yang menjadi noda dalam diri hingga Tuhan menyembelih kasih dalam cinta. Aku tak pernah bermesra dengan dia. Apalagi satu celana.

Dalam hatiku hanya ada tanda tanya. Dia yang tinggalkan aku semoga tak merana. Sebenarnya tak ada dosa. Hanya ada salah dan lupa. Kita tak perlu menadah dan berdoa. Biar Tuhan ampuni kita.

Siapa sangka doa sebenarnya tak bisa ampuni dosa. Apa lagi hanya diam tanpa makna.

Aku coba memaknai ikatan kita. Ikatan tanpa saudara. Tapi ikatan menyambung cinta.

Aku yang punya kasih tinggal di pulau-pulau yang lupa. Lupa pada makna dosa. Dosa yang terasa di dada. Sebab cinta yang dituju bukanlah dia.

Masih pagi ini. Ku mulai memakna. Sebenarnya aku saja yang menyambung rasa. Tanpa sambutan kata.

Jadi aku tak boleh marah pada engkau yang berdusta dan meninggalkan kita beserta biji Nangka.

 

Ini telah terbit di KOMPAS.com

Iklan

One thought on “Kopi Air Mata

  1. Ibnu Thamrin Al-Asqalani A.G berkata:

    Awalnya memikat dan terasa kekuatannya menarik. berikutnya aku merasa sedikit menurun pada tengahtengah kata. ending yang apik. puisi ini memberikan perenungan yang baik. kutahu, sedikit banyak ini tentang hatimu yang berjarak dengan hantiNya kan kawan? antara OL dan sholat kadang membuat kita dilema. tp yakinlah takkan ada tuhan di dunia maya. hehe salam kembali pulang ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s