HAJI MABRUR dan HAJI TOUR


Haji merupakan amal badaniyah dan maliyah, yaitu amal yang dikerjakan dengan segenap jasmani, rohani dan harta. Berbeda dengan rukun Islam yang lain, shalat dan puasa hanya amal badaniyah, sedangkan zakat hanya amal maliyah. Haji diwajibkan bagi orang yang sanggup. Sanggup dari segi jasmani dan rohani, juga sanggup dari segi harta. Kesanggupan jadi patokan bagi setiap muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Orang yang tidak sehat jasmani dan rohaninya, tapi dia punya kesanggupan dari segi harta atau biaya, maka tidak ada hukum wajib haji baginya. Juga yang sehat jasmani dan rohaninya, namun tak ada kesanggupan hartanya, juga tak ada kewajiban menunaikan haji baginya.

Kesanggupan setiap muslim juga berbeda. Ada yang sanggup menunaikan haji setiap tahun, jika dilihat dari segi hartanya. Ada juga yang sanggup beberapa kali. Dan juga dia hanya sanggup sekali dalam seumur hidupnya. Kewajiban seorang muslim dalam menunaikan ibadah haji hanyalah sekali dalam seumur hidup.

Dari hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian, maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah saw. kemudian menjawab: Jika aku katakan “ya”, niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya.

Jelas, kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Yang kedua kalinya adalah sunnah. Dan yang ketiga kalinya lebih baik biayanya itu disedekahkan bagi fakir dan miskin atau pun orang yang membutuhkannya. Jika seorang muslim ingin mengerjakan rukun Islam yang urutan terakhir ini, namun belum ada kesanggupannya atau dia telah wafat, maka hajinya boleh dibadal(ganti)kan, orang lain yang mengerjakannya.

Berniat naik haji ke Tanah Suci Mekkah, sudah merupakan keharusan bagi setiap muslim. Karena awal dari setiap pekerjaan itu haruslah dengan niat, itu pun harus ikhlas dan lurus. Tidak mungkin kita menyeru panggilan Allah kalau niat kita belum ada untuk menjawab panggilan suci itu.

Maka orang yang datang untuk melaksanakan ibadah haji, Rasulullah menyambut mereka (jama’ah haji) dan dia berkata: “Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti ongkosmu (biaya-biayamu)”.

Haji Mabrur

Setiap jama’ah haji, ingin hajinya jadi haji yang mabrur, karena jelas balasan bagi mereka hajinya yang mabrur tidak ada kecuali surga. Berbagai usaha mereka lakukan. Sebelum berangkat haji, banyak yang melakukan acara syukuran, selamatan yang sifatnya minta do’a. entah apa yang terjadi bagi mereka, bahkan masih ada yang minta di-doa-kan dengan acara yasin-an, pada hal mereka sudah berada di Mekkah. Bukankah di Mekkah lebih banyak tempat untuk berdo’a yang pasti diijabah Allah? Mengapa harus minta do’a dari Indonesia yang penganut agama kebudayaan ini? Seharusnya dia yang mendo’akan keluarganya di Masjid Al Haram, bukan?

Seorang muslim calon jam’ah haji, dari awal ia sudah punya niat dan motivasi menunaikan ibadah haji. Dalam film “Emak Ingin Naik Haji” tergambar beberapa motivasi seorang muslim untuk naik haji. Si emak—tokoh dalam film itu—memerankan seorang muslim yang berlatar belakang tidak sanggup dalam segi harta atau biaya, namun ia tetap optimis untuk pergi haji, dengan menabung di bank, itulah yang dikumpulkannya dari hasil usaha bikin kue. Melihat lukisan Ka’bah, dan gambar-gambar Masjid Al  Haram dan Masjid An Nabawi hatinya rindu, dia ingin melihat langsung, “Walaupun jasad emak gak disana, tapi ruh emak sudah duluan kesana”.

Motivasi lain digambarkan juga dalam film itu. Seorang keluarga yang kaya, ingin naik haji bersama-sama dalam keluarga, itu karena bareng-an dengan artis Indonesia. Juga motivasi seorang politikus yang ingin mencalonkan diri sebagai walikota atau pejabat. Hanya ingin mendapatkan embel haji di pangkal namanya, karena basis daerah pemilihannya adalah muslim fanatik. Masih banyak lagi motivasi atau niat-niat terselubung lainnya yang belum tergambarkan dalam film itu.

Karena Mekkah dan Madinah kota yang bersejarah dan kota yang paling banyak dikunjungi manusia setiap tahunnya. Maka tidak salah disebut kota itu juga sebagai kota wisata. Di sana banyak objek wisata. Pastinya wisata religi atau wisata rohani (batin). Orang banyak yang pergi ke Mekkah hanya untuk wisata saja, meskipun dalam acara haji atau umroh, akantetapi itu hanya formalitasnya saja. Pada hakikatnya mereka tidak memperoleh sedikitpun dari apa yang mereka lakukan disana, kecuali cuma kekaguman mereka pada bangunan-bangunan dan benda-benda bersejarah lainnya. Jadi haji dan umroh mereka hanya sekedar tour.

Banyak yang sudah beberapa kalai haji dan umrah. Pergi balik, Mekkah-Indonesia, namun tidak ada satu pun perubahan dalam hati dan dirinya. Mereka kebanyakan hanya memperoleh embel-embel haji yang disingkat dengan “H” di pangkal namanya—padaha Nabi Muhammad dan para sahabat namanya tidak pakai embel haji di pangkal namnya, contoh (bukan) Nabi H. Muhammad SAW atau H. Abu Bakar As Siddiiq kan?. Dan Para artis, berapa kali mereka umrah, namun pakaiannya tetap seksi, mini, dan tetap juga mengumbar nafsu dan syahwat, juga suka digosipin.

Sebagian pengusaha, pejabat, dan orang-orang kaya kalau dihitung embel hajinya mungkin suda triple’H’ atau bahkan lebih. akantetapi, haji hanya tinggal gelar, akhlak mereka tetap tidak dapat jadi contoh. Tetap juga mereka pakai celana boxer keluar rumah. Tetap juga mereka korupsi, menyalah gunakan jabatan, dan memutuskan hukum dengan tidak adil. Banyak pejabat negara yang haji, namun negara ini tetap, tidak ada kemajuan atau perubahan dari aspek mana pun. Iman mereka tetap menindas yang lemah, memeras masyarakat, dan mengabaikan kesejahteraan yang merupakan hak utama rakyat.

Awal pulang haji mereka rajin shalat ke mesjid, tapi hanya satu sampai dua minggu, lepas itu kembali lagi mereka seperti sebelum mereka naik haji. Mereka hanya rajin menyandang serban di bahu. Pakai peci haji. Hatinya yang kotor tetap kotor. Kenapa tidak ada perubahan?

Niat yang belum lurus dalam melaksanakan ibadah haji adalah faktor kenapa orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji seakan hajinya tidak mabrur. Dalam kitab ushul fiqh Imam As Syafi’i mengatakan, “Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya”. Karena ibadah haji ini merupakan panggilan Sang Maha Raja, Dia yang memberikan fasilitas buat hamba yang dipanggilnya, maka dari awal harus meluruskan niat positif, bahwa seorang hamba yang  naik haji hanya memenuhi panggilan Allah Subhanahuwata’ala. Agar jangan hasil dari Ibadah haji itu hanya bawa ceret berwarana kuning emas, atau hanya bawa Korma dan air Zamzam dari Mekkah. Bagi kalian yang berangkat naik haji pada tahun ini, dan yang akan berangkat pada tahun-tahun besok, ucapkanlah “Alhamdulillah, saya sudah diundang Allah”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s