Tuhan, Kamu di Mana?


“Jadi di mana letak Tuhan?”
“Aku sudah bilang. Aku tak tau di mana Tuhan. kalau aku tahu Tuhan di mana, dari dulu aku sudah jumpa sama Dia. Karena sepengetahuanku, Tuhan itu tak (butuh) bertempat,” kujawab dengan nada sedikit ketawa.

Nasi Goreng pesananku baru separuh piring habis. Dua orang tiba ke kedai jual Nasi Goreng harga lima ribu rupiah itu. Satu termasuk teman lama (tiga tahun, lumayan lama) tak dekat amat lah. Yang satu lagi tak kenal. Sudah lama tak jumpa. Biasanya kami jumpa paling sering di Mesjid tempatku. Bahasan kami pun waktu berbual tak pula lah masalah agama dan ke-Tuhan-an. Tiba-tiba—kali ini—dibahasnya aku sebagai Ghorim (Penjaga Mesjid) juga Mahasiswa yang kuliah di Fakultas Agama Islam (FAI).

Diawalinya dengan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan dia tentang shalat dan keberadaan Tuhan.

“Tuhan di mana?”
“Aku tak tau Tuhan di mana.”
“Untuk apa kamu shalat?”
“Mencari ketenangan batin.”
“Cuma itu?”
“Bukan. Dalam shalat aku bercinta dengan Allah. Disana (waktu shalat) aku bisa berkomunikasi dengan—Nya.”
“Terus, apa fungsi bagimu shalat?”
“Tanha ‘anil fakhsyai wal munkar, menyelamatkanmu dari kejahatanku.”

Dia terus bertanya. Terkadang pertanyaan sama diulang. Mungkin dia tak puas dengan jawabanku.

“Jadi di mana letak Tuhan?”
“Aku sudah bilang. Aku tak tau di mana Tuhan. kalau aku tahu Tuhan di mana, dari dulu aku sudah jumpa sama Dia. Karena sepengetahuanku, Tuhan itu tak (butuh) bertempat,” kujawab dengan nada sedikit ketawa.
“Kau kan kuliah di FAI, masa` kau tak tau Tuhan di mana.”
“Jangan anggap semua yang kuliah di FAI itu tau masalah agama.”
“Berarti ilmumu belum sampai ke situ.”
“Pastinya dong, kalau sudah sampai taulah aku Tuhan itu di mana.”
“Jadi, apa ayat yang mengatakan Tuhan itu tak (butuh) bertempat?”
Aku tak jawab. Aku balik bertanya, “Apa pula lah ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan bertempat?”
Ia juga tak jawab pertanyaanku. “Masa` kamu Tanya aku lagi, kamu kan kuliah di FAI dan shalat tiap waktu, tinggal di Mesjid lagi.” Lagi-lagi FAI yang disapi putihkan.

Sebenarnya aku bisa sebutkan dalil yang menjelaskan Allah tak (butuh) bertempat. Karena, agak sebel dengan pertanyaannya yang seakan mengujiku, maka aku balik bertanya. Dan aku juga bisa sebutkan dalil yang menunjukkan Allah itu bertempat.
Aku masih terus makan Nasi Goreng. Perdebatan ini agak serius dikit. Orangpun mulai alih perhatian ke kami.

“Kamu harus cari Tuhan di mana.”
“Aku bukan pencari Tuhan, karena aku sudah tau Tuhan tak bertempat. Masa` ku cari lagi.”
“Pokoknya harus kamu cari. Nanti kamu sesat tak tau Tuhan di mana.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Untuk apa kucari. Kalau mau kucari, kenapa nggak dari dulu?”

Nasi gorengku habis. Aku minum. Dia juga ambil minum sambil nunggu pesanan Minas-nya.

Dia tetap nyuruh aku cari Tuhan . Katanya nanti aku sesat. Kutanya dia, bagaimana konsep sesat? Katanya sesat itu orang yang tak mengamalkan agamanya. Kubilang orang yang sesat itu, orang yang lari dari jalan sebenarnya. Jadi, katanya lagi aku nanti bisa menyesatkan—jika tak kucari Tuhan.

“Tau nggak kamu?”
“ Nggak tau, apa tu?”
“Buka web.”
“Emang harus buka web ya?”
“Buka lah web.”
“Ooo…. Maksudmu aku cari di web. Kamu suruh aku berguru ke web.”
Lagi-lagi, “Aku tak suruh kamu berguru sama web. Tapi buka web.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Masa` kamu suruh aku nyari Tuhan di web. Mana pula jumpa.”
Ibu, Penjual Nasi Goreng tersenyum melihat dan mendengar perdebatan kami. Orang yang di kedai itu pun pandangannya mengarah ke kami juga. Kawannya dari awal diam saja, asyik nonton—mungkin dia sudah satu pemahaman dengan kawannya itu.
“Pokoknya bukalah.”
“Aku bukan pencari Tuhan. Apalagi sampai nyarinya ke web.”
“terserah kamulah, nanti kamu sesat.”
“Rasulullah aja tak suruh buka Al Quran, apalagi buka web—untuk mencari Tuhan. Tapi Rasulullah suruh buka hati.” Dan “Aku bukan pencari Tuhan, tapi aku pencari jalan menuju Tuhan”.

Perdebatan (diskusi kusir juga tak apa-apa) tak ada titik temu. Dia tak bilang Tuhan di mana. Aku memang tak tau Tuhan di mana. Mungkin dia memahami keberadaan Tuhan itu dari ilmu sufi. Atau dia hanya baca di web (internet), setelah dibacanya lantas ditanyakannya (diuji) sama orang, apakah orang tau dimana Tuhan itu sesuai dengan pemahamannya.

Menurutku apapun yang kita peroleh dari internet haruslah diverifikasi, karena bisa saja orang yang tak punya ilmu, atau malah yang mau mengacaukan yang bikin posting itu. sesuatu ilmu jangan hanya dibaca dan dipahami sendiri, tapi harus dipelajari dengan berguru pada yang mengetahui. Jangan sampai kita sesat seperti yang sangat dikhawatirkannya terhadap diriku yang tak tau Tuhan dimana.

Kubayar Nasi Goreng. Pesanan Minas mereka terhidang. “Aku duluan—maksudku pulang sekarang, bukan nyari Tuhan,” pamitku. Kukayuh sepeda janda—ungu—ku. Sepeda yang menghiasi perjalanan hidupku. Aku pulang ke Mesjid tempatku, tentunya bukan nyari Tuhan. Wallahu‘a`lamu bishshawab!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s