Kebenaran Fungsionalitas Agama


Jika aku Kristen dan kamu Islam, apakah menurut Kristen Islam itu benar? Tentunya tidak. Karena kebenaran Islam itu adalah kebenaran versi Islam (baca: Allah — Tuhan Muslim) dan penganutnya. Bukan kebenaran versi Kristen dan penganutnya.

Dalam Elemen Jurnalisme disebutkan Jurnalisme Harus Berpihak Pada Kebenaran. Tapi aku tak bahas masalah jurnalisme dalam tulisan ini. Jadi, menurut jurnalisme kebenaran itu fungsional. Tak bisa dipatokan dalam satu kebenaran menurut Agama Islam, Kristen, pakar, pengamat, atau kebenaran menurut kamu. Pastinya kebenaran menurutmu dengan kebenaran menurut aku beda dunkz (alay).

Jika aku Kristen dan kamu Islam, apakah menurut Kristen Islam itu benar? Tentunya tidak. Karena kebenaran Islam itu adalah kebenaran versi Islam dan penganutnya. Bukan kebenaran versi Kristen dan penganutnya.

Shalat Jumat, 30 Desember 2011 di Mesjid Munawarah, Universitas Islam Riau. Khatib yang menyampaikan khutbahnya saat itu dengan berapi-api, dia bilang Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu dan keyakinan lain di luar Islam itu bukan agama.

Katanya hanya Islam yang agama. Dalam Al Qur’an Allah tak menyebutkan macam itu. Akan tetapi Allah sebutkan bahwa banyak agama di dunia ini, Yahudi, Nasrani, Kristen, Majusi dan keyakinan lain. Allah SWT saja mengakui keberadaan agama-agam itu, mengapa Khatib mengingkari keberadaan yang Allah akui?

Allah Subhanahu Wata’ala, Ilah alam semesta yang menjadikan semua yang terjadi, menciptakan semuanya dengan sebaik-baiknya dan merencanakan semuanya dengan pasti.

Allah pasti Lebih (Maha) Tahu dari Mbah Google, karena Barry Eko Lesmana bilang Google Maha Tahu—bisa jadi, karena rata-rata semua yang diinginkan si peminta bisa dipenuhi Google, meski tak semuanya Perfect.

Akantetapi, Google lebih tahu dari Khatib yang menyampaikan khutbahnya itu di depan para dosen, mahasiswa dan insan terdidik lainnya. Mungkin Khatib itu perlu disuruh kuliah masalah keagamaan—bukan hanya Islam— lagi, biar dia meneruskan misi Rahmatan lil’alamin.

Terkadang kita dipaksa pluralisme. Karena keadaan di atas, hal ini menjaga kedamaian di bumi Allah ini. Bukankah plural (tanpa isme) termaktub dalam Al Quran, Kitab suci ummat Islam.

Plural dalam Islam itu ada tapi bukan untuk pluralisme. Plural dalam Islam itu bukti bahwa Allah dan Muslim sebagai hambanya mengakui keberadaan ummat lain di luar Islam.

Islam mengakui agama-agama yang ada di dunia ini, bukan membenarkannya. Allah tetap memilih Islam sebagai diin (Agama, Melayu) di sisinya. Wallahu’a’lamu bishshawab!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s